Label

Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2021

Peran Guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah

 

      Seiring perkembangan zaman peran bimbingan dan konseling di sekolah sudah semakin berkembang dan dibutuhkan guna meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Namun Bimbingan dan konseling di sekolah sering disalah pahami oleh sebagian orang yang belum mengetahui peran bimbingan dan konseling di sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut berikut ini uraian tentang peran bimbingan dan konseling di sekolah.


a. Pengertian Peran

            Peran dapat diartikan sebagai sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan terutama dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa. Dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” Departemen Pendidikan Nasional (2005: 854), Istilah peran mempunyai arti pemain sandiwara (film), tukang lawak pada pemain makhyong, perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.

            Peran dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran sendiri menurut J.Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2007:160) adalah sebagai berikut:

  1. Memberi arah pada proses sosialisasi
  2. Pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan.
  3. Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat,
  4. Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.
            Makna peran merupakan perilaku individu yang diharapkan karena status yang diembannya, peran juga merupakan suatu konsep perihal apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai suatu organisasi. Menurut Janu Murdianto (2007:67) “Peran dijalankan berdasarkan status sosial posisi yang dipilih oleh seseorang individu. Contohnya menjadi seorang ibu merupakan status sosial. Peran yang dijalankan dari status sebagai seorang ibu, adalah membimbing, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya”. Oleh karena itu bila ditinjau dari segi peran yang dijalankan dari status sebagai guru bimbingan konseling di sekolah maka secara ringkas dapat dikemukakan bahwa peran guru bimbingan konseling adalah membantu individu (siswa) untuk mengenal dirinya dan mencapai perkembangan yang optimal sesuai potensi yang berkembang dalam diri individu agar mampu merencanakan masa depan sehingga menghasilkan insan indonesia yang diharapkan.

Selanjutnya Menurut Soerjono Soekanto (2006:213) Peranan (Role) diartikan:

“Yang dinamis dari suatu kedudukan. Dimana apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia dikatakan menjalankan suatu peran. Peranan itu sendiri lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses. Jadi, tepatnya adalah bahwa seseorang menduduki suatu posisi atau tempat dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan."

        Menurut hemat penulis, dari definisi peran tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada individu berkaitan dengan suatu fungsi atau tugas yang sesuai dengan posisi, kedudukan, atau status oleh suatu individu dalam struktur sosial dalam masyarakat.

        Terkait dengan peran guru bimbingan dan konseling, maka peran merupakan satuan tugas yang dijalankan oleh guru bimbingan dan konseling dalam rangka melaksanakan sebuah kegiatan dengan misi dan tujuan bimbingan dan konseling.


b. Pengertian Guru Bimbingan dan Konseling

        Saat sekarang kehadiran bimbingan konseling  pada lembaga pendidikan tidak diragukan lagi karena secara yuridis formal pemerintah telah memberikan legalitas terhadap keberadaan bimbingan konseling  di sekolah. Sebagaimana dinyataka UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas bab 1 pasal 1 Ayat 6 : pendidikan adalah tenaga pendidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, guru bimbingan konseling (konselor), pamong belajar, widyaiswara, tulor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartsipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

        Dengan demikian dalam UU RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6 menjelaskan bahwa guru BK adalah konselor, konselor adalah pendidik, karena itu konselor harus berkompetensi sebagai pendidik. 
Lebih lanjut menurut Winkel (2006: 172) “Guru bimbingan dan konseling/konselor sekolah adalah tenaga professional, yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan (full-time guidance counselor).” Membantu siswa dalam proses pengambilan keputusan diri, memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, mengenal lingkungan dunia dan masa depannya, merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab serta membantu siswa mengambil keputusan arah studi lanjutan yang tepat dengannya dan mengembangkan potensi yang dimiliki juga merupakan pelayanan bimbingan konseling.

            Oleh karena itu keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling sangat penting dalam mendukung dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.  Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2009:30) bahwa “guru BK adalah guru yang memiliki kemampuan dan kualitas kepribadian yang baik, memiliki pengetahuan dan keahlian profesional tentang pelayanan bimbingan dan konseling, serta pendidikan psikologi yang sesuai dengan tugas dan profesinya.” 
Dengan memperhatikan penjelasan di atas, jelas bahwa Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang merupakan bagian dari pendidikan yang memiliki kemampuan dan kualitas untuk membantu siswa memahami diri, menyesuaikan diri, memecahkan masalah, membuat pilihan dan  merealisasikan dirinya dalam kehidupan nyata serta mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai perkembangan optimal. 


c. Tugas dan Fungsi Guru Bimbingan dan Konseling
 
            Guru pembimbing tidak lepas dari tugasnya guna terciptanya layanan yang maksimal. Tugas-tugas guru BK dimaksudkan agar guru BK mengetahui mengenai perannya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Karena Menurut Fenti Hikmawati, (2011: 43) “Guru BK pendidikan adalah guru BK yang bertugas dan bertanggung jawab dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan.” Guru BK haruslah melaksanakan layanan bimbingan dan konseling yaitu mendidik, membimbing, dan mengembangkan kemampuan peserta didik (siswa) dalam memecahkan permasalahan yang dialami dan segala potensi melalui layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan peran dan tugas sebagai guru bimbmbingan dan konseling.

            Adapun tugas dan beban Guru BK menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 54 butir 6 disebutkan bahwa “Beban kerja guru bimbingan dan konseling atau konselor yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah mengampu paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan “. Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru Pasal 54 butir 6 bahwa:

Yang dimaksud dengan “mengampu layanan bimbingan dan konseling” adalah pemberian perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok bagi yang perlu dan yang memerlukan.

         Dengan demikian Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Sesuai dalam Permendiknas No. 22/2006 tentang standar isi dan satuan pendidikan dasar dan menengah mengemukakan lebih lanjut tentang tugas guru BK dalam pelayanan konseling yaitu :

  1. Memberiakan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat.
  2. Masalah pribadi, kehidupan sosial belajar dan pengembangan karir.
  3. Di fasilitasi/dilaksanakan oleh konselor.
        Oleh karena itu, Guru bimbingan dan konseling juga memiliki tugas untuk merancang program kegiatannya untuk secara aktif berpartisipasi dalam penumbuhan perilaku baik dan pengembangan diri siswa. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara mandiri yang ter¬ancang dalam program bimbingan dan konseling, dan juga bersama-sama dengan pen¬didik lain (guru bidang studi misalnya) yang terancang dalam program sekolah yang dilakukan secara sinergis dari beberapa pihak.

      Abu Bakar M. Luddin (2010:59) menjelaskan mengenai tugas bimbingan konseling yang berhubungan dengan pengelolahan bimbingan konseling yaitu sebagai berikut:

“Tugas guru pembimbing/konselor adalah: memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling, merencanakan program bimbingan dan konseling, melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa yang menjadi tanggung jawabnya minimal sebanyak 150 siswa, melaksanakan kegiatan penunjang bimbingan dan konseling, menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling, menganalisis hasil penilaian, melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian, mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling, mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru pembimbing.”

        Selain menjalankan kegiatan pengelolahan Guru bimbingan dan konseling juga mempunyai tugas melaksanakan tugas – tugas pokok pelayanan terhadap peserta didik (konseli) atau para pengguna pelayanan bimbingan dan konseling. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas (2009:11-12) memaparkan tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:

  1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
  2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
  3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
  4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

        Jadi, berdasarkan penjelasan di atas mengenai tugas Guru bimbingan dan konseling dapat disimpulkan bahwa tugas guru bimbingan dan konseling yaitu melaksanakan seluruh kegiatan pengelolahan bimbingan konseling serta melaksanakan tugas – tugas pokok memberilan pelayanan bimbingan konseling kepada paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun.

          Selain memiliki tugas sebagai salah satu pendidik guru bimbingan dan konselng di sekolah juga memiliki peran dan fungsi sebagai berikut: (Supriatna, 2011: 238)
  1. Membantu peserta didik mengembangkan potensi secara optimal baik dalam bidang akademik maupun sosial pribadi, memperoleh pengalaman belajar yang bermakna di sekolah, serta mengembangkan akses terhadap berbagai peluang dan kesempatan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah 
  2. Membantu guru memahami peserta didik, mengembangkan proses belajar mengajar yang kondusif serta menangani permasalahan dalam proses pendidikan 
  3. Membantu pimpinan sekolah dalam penyediaan informasi dan data tentang potensi dan kondisi peserta didik sebagai dasar pembuatan kebijakan peningkatan mutu pendidikan. 
  4. Membantu pendidik dan tenaga kependidikan lain dalam memahami peserta didik dan kebutuhan pelayanan; serta
  5. Membantu orang tua memahami potensi dan kondisi peserta didik, tuntutan sekolah serta akses keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan.  
           Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan dan bukan saja untuk mengatasi kesulitan peserta didik akan tetapi juga memiliki fungsi membantu pimpinan sekolah, guru, serta orang tua dalam mengenal siswanya secara lebih dalam sehingga bimbingan dan konseling lebih sistematis dan bermutu karena bimbingan dan konseling juga mempunyai fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan, pemeliharaan dan pengembangan.

        Menurut (Mughiarso, Heru, dkk, 2012: 34-38) pelayanan bimbingan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak di penuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi bimbingan dan konseling setidaknya ada empat yakni:
  1. Fungsi pemahaman, fungsi ini memungkinkan pihak-pihak yang  berkepentingan dengan peningkatan perkembangan dan kehidupan konseli (yaitu konseli sendiri, konselor, dan pihak ketiga) memahami  berbagai hal yang essensial berkenaan dengan perkembangan dan kehidupan klien. Fungsi ini terdiri dari: pemahaman terhadap klien,  pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas. 
  2. Fungsi pencegahan, layanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi  pencegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. 
  3. Fungsi pengentasan, walaupun fungsi pencegahan dan pemahan telah dilakukan, mungkin seja konseli yang ada di sekolah masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi pengentasan (perbaikan) itu berperan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai  permasalahan yang dialami klien.
  4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, fungsi ini berarti layanan  bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para konseli dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan 
         Fungsi – fungsi tersebut diwujutkan dalam bentuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, maka dalam prakteknya, layanan bimbingan dan konseling sebaiknya lebih mengedepankan fungsi – fungsi bimbingan dan konseling

         Selain itu menurut H.M. Umar, dkk dalam Anas salahudin (2010:129) secara khusus, menjelaskan fungsi khusus bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu :
  1. Menolong anak dalam kesulitan belajarnya.
  2. Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan dengan anak-anak.
  3. Member nasihat kepada anak yang akan berhenti dari sekolahnya.
  4. Memberi petunjuk kepada anak-anak yang melanjutkan balajarnya, dan sebagainya
        Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa fungsi Guru bimbingan dan konseling yaitu 1. Pemberi bantuan kepada peserta didik mengembangkan potensi secara optimal. 2. Memiliki fungsi pemahaman, pencegahan, pengantasan, pemeliharaan dan pengembangan diri konseli (peserta didik) melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. 3. Pemberi bantuan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan tingkat perkembangan dan kehidupan konseli (yaitu orang tua, pendidik atau tenaga kependidikan lain, dan pihak ketiga). 4. Fungsi perencanaan, misalnya membantu membuat pilihan yang sulit kepada peserta didik yang melanjutkan belajanya atau karir yang tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

Narwoko, J.Dwi & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta: Prenada Media Group, 2007

Janu Mardianto. (2007). Sosiologi Memahami dan Mengkaji Masyarakat, Bandung: Garfindo Media Pratama.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006

UU.Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, BP. Cipta Jaya.

Winkel, W.S & M.M Sri Hastuti. 2006. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Nurihsan, Achmad Juntika. 2009. Bimbingan dan Konseling (Dalam Berbagai Latar Kehidupan). Bandung: PT. Refika Aditama.

Hikmawati, Fenti. 2011. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. 74 Tahun 2008 tentang Tugas Guru BK/Konselor dan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.

Luddin, Abu Bakar M., 2010. Dasar – Dasar Konseling, Bandung: Ciptapustaka Media Perintis.

Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Departeman Pendidikan Nasional. (2009). Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Pengawas, Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional

Supriatna, Mamat. 2011. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi (Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor). Jakarta: RajaGrafindo Persada

Salahudin, Anas. Bimbingan & Konseling. Bandung: CV Pustaka Sedia. 2010

Mughiarso, Heru, dkk. 2012. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Press

Minggu, 19 September 2021

3 Ice Breaking Bimbingan Konseling Khusus Untuk Bimbingan Klasikal di Kelas

            Bimbingan klasikal yang merupakan salah satu kegiatan bimbingan konseling yang ditujukan untuk semua peserta didik di satuan kelas. Pada pelaksanaan bimbingan tersebut, layanan bimbingan klasikal bila tidak dikemas secara baik tentu akan berakibat pada kurang tertariknya peserta didik dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal tersebut. Sehingga tujuan dari bimbangan klasikal tersebut tidak tercapai secara maksimal.

            Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa di pakai Guru BK untuk menarik minat peserta didik untuk  mengikuti layanan bimbingan klasikal adalah dengan cara menggunakan ice breaking. 

            Peran ice breaking dalam bimbingan dan konseling tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena untuk dapat menarik minat peserta didik untuk mengikuti layanan bimbingan klasikal, mencairkan suasana saat peserta didik mengalami ketegangan saat mengikuti layanan bimbingan klasikal, hingga bisa mendukung materi bimbingan klasikal yang sedang diberikan dibutuhkan ice breaking yang tepat,

            Saat ini, telah banyak ragam jenis ice breaking yang dikembangkan dan dibuat untuk dapat diaplikasikan dalam kegiatan bimbingan konseling terutama bimbingan klasikal. Guru BK bisa membuat sendiri ice breaking atau menambil dan memilih salah satu atau dua ice breaking yang tepat dari internet ataupun buku untuk kegiatan bimbingan klasikal yang akan dilaksanakan di kelas

            Nah berikut ini 3 contoh ice breaking yang bisa diterapkan dala kegiatan bimbingan klasikal di kelas:


1.      Ayo Bermain “Tangkap tangan”

Tujuan                 : Melatih konsentrasi anak atas hitungan dan kordinasi

dengan jari   tangan

Jumlah Peserta     : 7-20 orang

Waktu                  : 10 menit

Setting Ruang     : Kelas


Langkah pemainan
  1. Siswa dibentuk menjadi kelompok kecil setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang
  2. Siswa duduk atau berdiri membentuk lingkaran
  3. Ketika guru menyebutkan angka 1 maka semua siswa mengangkat telunjuk kanannya disamping sejajar bahu
  4. Ketika guru menyebutkan angka 2 maka semua siswa menelungkupkan telapak tangan kirinya di atas telunjuk kanan teman di sampingnya
  5. Apabila pembimbing mengatakan 3 maka tangan kiri siswa harus menangkap telunjuk teman di sampingnya dan menarik telunjuknya sendiri agar tidak tertangkap oleh teman sebelah kanan nya
  6. Siswa yang tangannya tertangkap berarti keluar dari permainan
Poin belajar:
Melalui berbagai pertanyaan dan diskusi, guru pembimbing memfasilitasi siswa untuk menemukan poin-poin belajar yaitu melatih konsentrasi dan keselarasan gerak antara ucapan dengan gerakan tangan. Seseorang melakukan hal yang sama secara berulang-ulang, daa konsentrasi akan berkurang maka dengan permainan ini hendaknya siswa sellalu siap konsentrasi agar tidak melakukan kesalahan. (Sumber: Suwardi & Elisa, Eva Imania. 2011. Peemainan (Games) dalam Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Paramita Publishing)


2. Ayo Bermain “Lomba Melipat Kertas Besama Tim”
        Tujuan              : Keakraban, mencairkan suasana, melatih kerjasama
        Waktu              : 10 menit
        Jumlah Peserta     : 6-50 orang
        Setting Ruang       : Kelas

Petunjuk permainan :
  1. Guru menginstruksi kan siswa untuk duduk dengan rapi
  2. Guru membagi tim sesuai dengan tempat duduk siswa
  3. Masing - masing siswa yang duduk paling depan menyiapkan selembar kerta untuk membuat pesawat
  4. Guru menerangkan bahwa masing- masing siswa memiliki sesempatan 1 atau 2 x melipat kerta. sedangkan siswa yang duduknya paling belakang tidak ada patokan berapa x melipat kerta
  5. Kemudian guru memberi aba - aba untuk mulai
  6. Siswa paling depat menelipat kartas pertama, kemudian menyerahkannya ke siswa yang dibelakangnya
  7. siswa yang belakang menerimanya dan melipat kertas tersebut 1 / 2 x lipatan saja kemudian menopernya kepada siswa dibelakangnya. begitu seterusnya sampai siswa yang duduknya paling belakang
  8. Siswa paling belakang bertugas menyelesaikan pembuatan pesawat dari kertas. kemudian menerbangkannya kedepan. sampai diterima oleh siswa yang duduknya paling depan
  9. Kelompok yang selesai diluan dan bisa menerbangkan pesawat sampai bisa di tengkap oleh siswa yang paling depan dia lah pemenangnya.

3. Konsen Trulala

Tujuannya         : Mencairkan suasana, keakraban
Waktu : 15 Menit
Jumlah Peserta :Menyesuaikan
Setting ruangan :Kelas
Petunjuk Permainan:
  1. Semua peserta didik berada di posisi sesuai arahan guru BK
  2. Guru BK menyampaikan aturan permainan
  3. Jika saya menyebut LAUT, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang yang ada di LAUT
  4. Jika saya menyebutkan UDARA, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang yang ada di DARAT.

Setelah dicoba dan bisa menjawab semua sekarang dicoba lagi tapi dengan permainan yang lebih sulit. Adapun aturannya sebagai berikut:
  1. Jika saya menyebutkan LAUT, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang selain yang ada di LAUT
  2. Jika saya menyebutkan UDARA, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang selain yang ada di UDARA
  3. Jika saya menyebutkan DARAT, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang selain yang ada di DARAT
  4. Lakukan beberapa kali dan usahakan semua peserta didik kena tunjuk. Jika ada yang salah dapat diberi sanksi sesuai kesepakatan. Beri feedbeck dengan mengajikan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapat umpan balik mengenai permainan tersebut.


Akhir kata

            Demikianlah 3 contoh ice breaking yang bisa diterapkan dalam bimbingandan konseling pada layanan bimbingan klasikal di kelas.

            Demi bisa memberikan bimbingan klasikal yang efektif dan dapat mencapai tujuan bimbingan klasikal. Guru BK perlu benar-benar memilih ice bereaking yang tepat untuk setiap tema bimbingan klasikal yang akan di berikan bahkan bisa membuat sendiri ice breaking yang cocok dengan kelas yang akan diberi layanan bimbingan klasikal.

            Bagi Bapak Ibu yang punya ice breaking andalannya yang digunakan dalam memberikan bimbingan klasikal di kelas jangan lupa share ice breakingnya di kolom komentar dibawah ya … terimakasi dan tunggu artikel shering konseling berikutnya.

Kamis, 16 September 2021

Kumpulan Contoh Judul PTBK (Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling) Mudah

 



            Penelitian tindakan adalah bentuk investigasi yang dilakukan professional dengan turut serta didalamnya untuk memperbaikai suatu kondisi, dengan bekerjasama menggunakan informasi yang dikumpulkan sebagai bahan untuk refleksi dan melakukan tindakan untuk mencapai perbaikan yang diharapkan.

            Penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK) merupakan penelitian yang bersifat reflektif dilakukan pada pelayanan bimbingan dan juga pelayanan konseling yang akan diberikan, agar hasilnya bisa dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan program layanan bimbingan konseling di sekolah dan bisa digunakan untuk pengembangan sekolah dalam merancang model bimbingan yang akan diberikan kepada peserta didik. Jadi PTBK dapat dikatakan upaya untuk mengujicobakan berbagai ide-ide abstarak ke praktik kongkret agar memperoleh dampak nyata dari suatu situasi.1

            Penelitian ini tentu berbeda dengan jenis penelitian lainnya. Salah satu yang membedakannya yaitu judul penelitiannya. Judul pada PTBK merupakan pernyataan yang menunjukkan permasalahan dan tindakan yang akan dilakukan sebagai upaya pemecahan masalah. Judul dirumuskan secara deklaratif, spesifik, singkat, dan jelas yang mencerminkan penelitian tindakan yang akan dilakukan, dan bukan jenis penelitian lainnya.2

            Sebelum membuat PTBK tentu langkah awal yang menjadi pertimbangan adalah pemilihan judul. Pada dasarnya inti dari penetapan judul sebuah PTBK adalah masalah. Masalah apa yang ingin diangkat dengan tindakan tertentu maka peneliti mengidentifikasi masalah-masalah tersebut. Tingkat kesulitan melakukan dan membuat PTBK tergantung jenis judul serta kemampuan dan sumber daya yang dimiliki oleh peneliti. Nah seperti apakah judul PTBK. Berikut ini adalah contoh judul PTBK yang tergolong mudah untuk dikerjakan.

  1. Upaya Meningkatkan Minat Mengikuti Layanan Klasikal dengan Teknik Sosiodrama pada Siswa Kelas VIII  SMP Mardisiswa 2 Semarang Tahun Pelajaran 2020/2021
  2. Upaya Meningkatkan Perilaku Sopan Santun Peserta Didik di Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama pada Peserta didik Kelas VII SMP Babalan Tahun Pelajaran 2020/2021
  3.  Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Dalam Menaati Tata Tertib Melalui Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Teknik Modeling Pada Siswa Kelas VII SMPN 2 Ukui Tahun 2020/2021
  4.  Meningkatkan  Budaya Gotong Royong Siswa di Sekolah Melalui Bimbingan Klasikal dengan Metode Kerja Kelompok Pada Siswa Kelas VII SMP Budi Daya Binjai Tahun 2020/2021
  5. Upaya Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Melalui Konseling Kelompok Teknik Kontrak Perilaku pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Pangkalpinang Tahun 2020-2021.
  6. Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Masuk Sekolah Melalui Layanan Konseling Kelompok Teknik Kontrak Perilaku Pada Peserta Didik Kelas VII SMPN 13 Tegal tahun pelajaran 2020/2021
  7. Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa Kelas VIII Melalui Bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok di SMP Negeri 10 Tualang Tahun Ajaran 2020 / 2021
  8.  Upaya Meningkatkan Perilaku Sopan Santun Peserta Didik Kepada Orang Yang Lebih Tua di Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Media Video Karakter Pada Peserta Didik Kelas VII A SMP Budi Daya Binjai Tahun Pelajaran 2020/2021
  9. Upaya Meningkatkan Kemampuan Manajemen Waktu Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok pada Siswa kelas VIII SMP N 5 Tanjung Morawa Satap Tahun Pelajaran 2020/2021.
  10. Upaya Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Mengikuti Layanan Klasikal dengan Model Cooperative Learning Tipe  jigsaw di Kelas VIII SMP Anugrah Tanjungpandan Tahun Pelajaran 2020/2021.
  11. Meningkatkan Kepatuhan Siswa Kelas VII Terhadap Aturan Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Tekhnik Diskusi Kelompok di SMPN 2 Pangkalan Kuras Tahun Ajaran 2019/2020
  12.  Meningkatkan Perilaku Disiplin Belajar Yang Rendah Siswa Kelas VIII Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Diskusi SMP Islam Sudirman Tengaran Tahun Ajaran 2020/2021”.
  13. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Layanan Bimbingan Klasikal Teknik Problem Based Learning Pada Siswa Kelas 5-B SDN 050754 Teluk Meku Kec. . Babalan TA 2018/2019
  14. Upaya Menurunkan Perilaku Konsumtif Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Menggunakan Teknik Diskusi Pada Siswa Kelas VIII SMP AL Azhar Syifa Budi Pekanbaru II Tahun Ajaran 2018/2019.
  15.  Meningkatkan Kematangan Karir Peserta Didik Melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Teknik Diskusi Kelompok Kelas XI di SMK Negeri 1 Tanjung Morawa Tahun Ajaran 2019/2020
  16. Upaya Mengurangi Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Think-pair-share (TPS) di Kelas VII SMP N 3 Simpang Rimba Tahun Pelajaran 2020/2021
  17. Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa Kelas VIII Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Modeling SMP Negeri 10 Medan Tahun Pelajaran 2020/2021.
  18. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Modeling Pada Siswa Kelas VIII SMP PGRI 10 Kaliwungu  Tahun 2020-2021
  19. Upaya Peningkatan Keterampilan Interaksi Sosial Siswa Kelas X SMAS RK Deli Murni Sibolangit  Menggunakan Layanan Bimbingan Klasikal Teknik Sosiodrama Pelajaran  2020/2021
  20. Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Dalam Mentaati Tata Tertib Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Menggunakan Teknik Diskusi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Tandun  Tahun Ajaran 2020/2021
  21. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok di Kelas VII A SMPN 31 Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021
  22.  Meningkatkan Hubungan Sosial Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Menggunakan Teknik Diskusi Kelompok di Kelas VIII.C SMP Muhammadiyah 1 Tegal Tahun Pelajaran 2020/2021
  23. Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Dalam Mengikuti Bimbingan Klasikal Melalui Pemanfaatan Media Pembelajaran Film di Kelas VII C SMP Islam Bina Insani Susukan tahun pelajaran 2020/2021
            Itulah contoh judul PTBK yang bisa menjadi pedoman dalam membuat judul PTBK dalam mengerjakan PTBK untuk meningkatkan kualitas bimbingan konseling di sekolah dan meningkatkan professional Guru bimbingan konseling / Konselor Sekolah.

    Semoga bermanfaat.. dan tunggu artikel yang berikutnya ya..

 

Daftar Rujukan

  1. Rachman, Ali. 2017. Materi Seminar: Penguatan Penelitian Bimbingan dan Konseling. Berabai.
  2. M. Ramli., Dkk. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Bimbingan Konseling. Jakarta: Dirjen GTK. Kemdikbud

Soal Ulangan Harian PJOK Kelas 9 Semester 1 Permainan bola besar, Permainan Bola Kecil, dan Atletik

  ULANGAN HARIAN KELAS 9 PJOK SEMESTER 1 Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d yang merupakan jawaban paling benar untuk s...