Kamis, 23 September 2021

Peran Guru Bimbingan dan Konseling di Sekolah

 

      Seiring perkembangan zaman peran bimbingan dan konseling di sekolah sudah semakin berkembang dan dibutuhkan guna meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Namun Bimbingan dan konseling di sekolah sering disalah pahami oleh sebagian orang yang belum mengetahui peran bimbingan dan konseling di sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut berikut ini uraian tentang peran bimbingan dan konseling di sekolah.


a. Pengertian Peran

            Peran dapat diartikan sebagai sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan terutama dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa. Dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” Departemen Pendidikan Nasional (2005: 854), Istilah peran mempunyai arti pemain sandiwara (film), tukang lawak pada pemain makhyong, perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.

            Peran dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena fungsi peran sendiri menurut J.Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2007:160) adalah sebagai berikut:

  1. Memberi arah pada proses sosialisasi
  2. Pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan.
  3. Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat,
  4. Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.
            Makna peran merupakan perilaku individu yang diharapkan karena status yang diembannya, peran juga merupakan suatu konsep perihal apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai suatu organisasi. Menurut Janu Murdianto (2007:67) “Peran dijalankan berdasarkan status sosial posisi yang dipilih oleh seseorang individu. Contohnya menjadi seorang ibu merupakan status sosial. Peran yang dijalankan dari status sebagai seorang ibu, adalah membimbing, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya”. Oleh karena itu bila ditinjau dari segi peran yang dijalankan dari status sebagai guru bimbingan konseling di sekolah maka secara ringkas dapat dikemukakan bahwa peran guru bimbingan konseling adalah membantu individu (siswa) untuk mengenal dirinya dan mencapai perkembangan yang optimal sesuai potensi yang berkembang dalam diri individu agar mampu merencanakan masa depan sehingga menghasilkan insan indonesia yang diharapkan.

Selanjutnya Menurut Soerjono Soekanto (2006:213) Peranan (Role) diartikan:

“Yang dinamis dari suatu kedudukan. Dimana apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia dikatakan menjalankan suatu peran. Peranan itu sendiri lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses. Jadi, tepatnya adalah bahwa seseorang menduduki suatu posisi atau tempat dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan."

        Menurut hemat penulis, dari definisi peran tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada individu berkaitan dengan suatu fungsi atau tugas yang sesuai dengan posisi, kedudukan, atau status oleh suatu individu dalam struktur sosial dalam masyarakat.

        Terkait dengan peran guru bimbingan dan konseling, maka peran merupakan satuan tugas yang dijalankan oleh guru bimbingan dan konseling dalam rangka melaksanakan sebuah kegiatan dengan misi dan tujuan bimbingan dan konseling.


b. Pengertian Guru Bimbingan dan Konseling

        Saat sekarang kehadiran bimbingan konseling  pada lembaga pendidikan tidak diragukan lagi karena secara yuridis formal pemerintah telah memberikan legalitas terhadap keberadaan bimbingan konseling  di sekolah. Sebagaimana dinyataka UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas bab 1 pasal 1 Ayat 6 : pendidikan adalah tenaga pendidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, guru bimbingan konseling (konselor), pamong belajar, widyaiswara, tulor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartsipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

        Dengan demikian dalam UU RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6 menjelaskan bahwa guru BK adalah konselor, konselor adalah pendidik, karena itu konselor harus berkompetensi sebagai pendidik. 
Lebih lanjut menurut Winkel (2006: 172) “Guru bimbingan dan konseling/konselor sekolah adalah tenaga professional, yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan (full-time guidance counselor).” Membantu siswa dalam proses pengambilan keputusan diri, memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, mengenal lingkungan dunia dan masa depannya, merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab serta membantu siswa mengambil keputusan arah studi lanjutan yang tepat dengannya dan mengembangkan potensi yang dimiliki juga merupakan pelayanan bimbingan konseling.

            Oleh karena itu keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling sangat penting dalam mendukung dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.  Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2009:30) bahwa “guru BK adalah guru yang memiliki kemampuan dan kualitas kepribadian yang baik, memiliki pengetahuan dan keahlian profesional tentang pelayanan bimbingan dan konseling, serta pendidikan psikologi yang sesuai dengan tugas dan profesinya.” 
Dengan memperhatikan penjelasan di atas, jelas bahwa Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang merupakan bagian dari pendidikan yang memiliki kemampuan dan kualitas untuk membantu siswa memahami diri, menyesuaikan diri, memecahkan masalah, membuat pilihan dan  merealisasikan dirinya dalam kehidupan nyata serta mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mencapai perkembangan optimal. 


c. Tugas dan Fungsi Guru Bimbingan dan Konseling
 
            Guru pembimbing tidak lepas dari tugasnya guna terciptanya layanan yang maksimal. Tugas-tugas guru BK dimaksudkan agar guru BK mengetahui mengenai perannya dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Karena Menurut Fenti Hikmawati, (2011: 43) “Guru BK pendidikan adalah guru BK yang bertugas dan bertanggung jawab dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan.” Guru BK haruslah melaksanakan layanan bimbingan dan konseling yaitu mendidik, membimbing, dan mengembangkan kemampuan peserta didik (siswa) dalam memecahkan permasalahan yang dialami dan segala potensi melalui layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan peran dan tugas sebagai guru bimbmbingan dan konseling.

            Adapun tugas dan beban Guru BK menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 54 butir 6 disebutkan bahwa “Beban kerja guru bimbingan dan konseling atau konselor yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah mengampu paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan “. Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru Pasal 54 butir 6 bahwa:

Yang dimaksud dengan “mengampu layanan bimbingan dan konseling” adalah pemberian perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok bagi yang perlu dan yang memerlukan.

         Dengan demikian Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Sesuai dalam Permendiknas No. 22/2006 tentang standar isi dan satuan pendidikan dasar dan menengah mengemukakan lebih lanjut tentang tugas guru BK dalam pelayanan konseling yaitu :

  1. Memberiakan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat.
  2. Masalah pribadi, kehidupan sosial belajar dan pengembangan karir.
  3. Di fasilitasi/dilaksanakan oleh konselor.
        Oleh karena itu, Guru bimbingan dan konseling juga memiliki tugas untuk merancang program kegiatannya untuk secara aktif berpartisipasi dalam penumbuhan perilaku baik dan pengembangan diri siswa. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara mandiri yang ter¬ancang dalam program bimbingan dan konseling, dan juga bersama-sama dengan pen¬didik lain (guru bidang studi misalnya) yang terancang dalam program sekolah yang dilakukan secara sinergis dari beberapa pihak.

      Abu Bakar M. Luddin (2010:59) menjelaskan mengenai tugas bimbingan konseling yang berhubungan dengan pengelolahan bimbingan konseling yaitu sebagai berikut:

“Tugas guru pembimbing/konselor adalah: memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling, merencanakan program bimbingan dan konseling, melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa yang menjadi tanggung jawabnya minimal sebanyak 150 siswa, melaksanakan kegiatan penunjang bimbingan dan konseling, menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling, menganalisis hasil penilaian, melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian, mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling, mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru pembimbing.”

        Selain menjalankan kegiatan pengelolahan Guru bimbingan dan konseling juga mempunyai tugas melaksanakan tugas – tugas pokok pelayanan terhadap peserta didik (konseli) atau para pengguna pelayanan bimbingan dan konseling. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas (2009:11-12) memaparkan tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:

  1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
  2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
  3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
  4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

        Jadi, berdasarkan penjelasan di atas mengenai tugas Guru bimbingan dan konseling dapat disimpulkan bahwa tugas guru bimbingan dan konseling yaitu melaksanakan seluruh kegiatan pengelolahan bimbingan konseling serta melaksanakan tugas – tugas pokok memberilan pelayanan bimbingan konseling kepada paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun.

          Selain memiliki tugas sebagai salah satu pendidik guru bimbingan dan konselng di sekolah juga memiliki peran dan fungsi sebagai berikut: (Supriatna, 2011: 238)
  1. Membantu peserta didik mengembangkan potensi secara optimal baik dalam bidang akademik maupun sosial pribadi, memperoleh pengalaman belajar yang bermakna di sekolah, serta mengembangkan akses terhadap berbagai peluang dan kesempatan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah 
  2. Membantu guru memahami peserta didik, mengembangkan proses belajar mengajar yang kondusif serta menangani permasalahan dalam proses pendidikan 
  3. Membantu pimpinan sekolah dalam penyediaan informasi dan data tentang potensi dan kondisi peserta didik sebagai dasar pembuatan kebijakan peningkatan mutu pendidikan. 
  4. Membantu pendidik dan tenaga kependidikan lain dalam memahami peserta didik dan kebutuhan pelayanan; serta
  5. Membantu orang tua memahami potensi dan kondisi peserta didik, tuntutan sekolah serta akses keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan.  
           Bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan dan bukan saja untuk mengatasi kesulitan peserta didik akan tetapi juga memiliki fungsi membantu pimpinan sekolah, guru, serta orang tua dalam mengenal siswanya secara lebih dalam sehingga bimbingan dan konseling lebih sistematis dan bermutu karena bimbingan dan konseling juga mempunyai fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan, pemeliharaan dan pengembangan.

        Menurut (Mughiarso, Heru, dkk, 2012: 34-38) pelayanan bimbingan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak di penuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi bimbingan dan konseling setidaknya ada empat yakni:
  1. Fungsi pemahaman, fungsi ini memungkinkan pihak-pihak yang  berkepentingan dengan peningkatan perkembangan dan kehidupan konseli (yaitu konseli sendiri, konselor, dan pihak ketiga) memahami  berbagai hal yang essensial berkenaan dengan perkembangan dan kehidupan klien. Fungsi ini terdiri dari: pemahaman terhadap klien,  pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas. 
  2. Fungsi pencegahan, layanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi  pencegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. 
  3. Fungsi pengentasan, walaupun fungsi pencegahan dan pemahan telah dilakukan, mungkin seja konseli yang ada di sekolah masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi pengentasan (perbaikan) itu berperan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai  permasalahan yang dialami klien.
  4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, fungsi ini berarti layanan  bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para konseli dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan 
         Fungsi – fungsi tersebut diwujutkan dalam bentuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, maka dalam prakteknya, layanan bimbingan dan konseling sebaiknya lebih mengedepankan fungsi – fungsi bimbingan dan konseling

         Selain itu menurut H.M. Umar, dkk dalam Anas salahudin (2010:129) secara khusus, menjelaskan fungsi khusus bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu :
  1. Menolong anak dalam kesulitan belajarnya.
  2. Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan dengan anak-anak.
  3. Member nasihat kepada anak yang akan berhenti dari sekolahnya.
  4. Memberi petunjuk kepada anak-anak yang melanjutkan balajarnya, dan sebagainya
        Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa fungsi Guru bimbingan dan konseling yaitu 1. Pemberi bantuan kepada peserta didik mengembangkan potensi secara optimal. 2. Memiliki fungsi pemahaman, pencegahan, pengantasan, pemeliharaan dan pengembangan diri konseli (peserta didik) melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. 3. Pemberi bantuan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan tingkat perkembangan dan kehidupan konseli (yaitu orang tua, pendidik atau tenaga kependidikan lain, dan pihak ketiga). 4. Fungsi perencanaan, misalnya membantu membuat pilihan yang sulit kepada peserta didik yang melanjutkan belajanya atau karir yang tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

Narwoko, J.Dwi & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta: Prenada Media Group, 2007

Janu Mardianto. (2007). Sosiologi Memahami dan Mengkaji Masyarakat, Bandung: Garfindo Media Pratama.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006

UU.Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, BP. Cipta Jaya.

Winkel, W.S & M.M Sri Hastuti. 2006. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi

Nurihsan, Achmad Juntika. 2009. Bimbingan dan Konseling (Dalam Berbagai Latar Kehidupan). Bandung: PT. Refika Aditama.

Hikmawati, Fenti. 2011. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. 74 Tahun 2008 tentang Tugas Guru BK/Konselor dan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.

Luddin, Abu Bakar M., 2010. Dasar – Dasar Konseling, Bandung: Ciptapustaka Media Perintis.

Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Departeman Pendidikan Nasional. (2009). Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Pengawas, Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional

Supriatna, Mamat. 2011. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi (Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor). Jakarta: RajaGrafindo Persada

Salahudin, Anas. Bimbingan & Konseling. Bandung: CV Pustaka Sedia. 2010

Mughiarso, Heru, dkk. 2012. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Press

Minggu, 19 September 2021

3 Ice Breaking Bimbingan Konseling Khusus Untuk Bimbingan Klasikal di Kelas

            Bimbingan klasikal yang merupakan salah satu kegiatan bimbingan konseling yang ditujukan untuk semua peserta didik di satuan kelas. Pada pelaksanaan bimbingan tersebut, layanan bimbingan klasikal bila tidak dikemas secara baik tentu akan berakibat pada kurang tertariknya peserta didik dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal tersebut. Sehingga tujuan dari bimbangan klasikal tersebut tidak tercapai secara maksimal.

            Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa di pakai Guru BK untuk menarik minat peserta didik untuk  mengikuti layanan bimbingan klasikal adalah dengan cara menggunakan ice breaking. 

            Peran ice breaking dalam bimbingan dan konseling tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena untuk dapat menarik minat peserta didik untuk mengikuti layanan bimbingan klasikal, mencairkan suasana saat peserta didik mengalami ketegangan saat mengikuti layanan bimbingan klasikal, hingga bisa mendukung materi bimbingan klasikal yang sedang diberikan dibutuhkan ice breaking yang tepat,

            Saat ini, telah banyak ragam jenis ice breaking yang dikembangkan dan dibuat untuk dapat diaplikasikan dalam kegiatan bimbingan konseling terutama bimbingan klasikal. Guru BK bisa membuat sendiri ice breaking atau menambil dan memilih salah satu atau dua ice breaking yang tepat dari internet ataupun buku untuk kegiatan bimbingan klasikal yang akan dilaksanakan di kelas

            Nah berikut ini 3 contoh ice breaking yang bisa diterapkan dala kegiatan bimbingan klasikal di kelas:


1.      Ayo Bermain “Tangkap tangan”

Tujuan                 : Melatih konsentrasi anak atas hitungan dan kordinasi

dengan jari   tangan

Jumlah Peserta     : 7-20 orang

Waktu                  : 10 menit

Setting Ruang     : Kelas


Langkah pemainan
  1. Siswa dibentuk menjadi kelompok kecil setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang
  2. Siswa duduk atau berdiri membentuk lingkaran
  3. Ketika guru menyebutkan angka 1 maka semua siswa mengangkat telunjuk kanannya disamping sejajar bahu
  4. Ketika guru menyebutkan angka 2 maka semua siswa menelungkupkan telapak tangan kirinya di atas telunjuk kanan teman di sampingnya
  5. Apabila pembimbing mengatakan 3 maka tangan kiri siswa harus menangkap telunjuk teman di sampingnya dan menarik telunjuknya sendiri agar tidak tertangkap oleh teman sebelah kanan nya
  6. Siswa yang tangannya tertangkap berarti keluar dari permainan
Poin belajar:
Melalui berbagai pertanyaan dan diskusi, guru pembimbing memfasilitasi siswa untuk menemukan poin-poin belajar yaitu melatih konsentrasi dan keselarasan gerak antara ucapan dengan gerakan tangan. Seseorang melakukan hal yang sama secara berulang-ulang, daa konsentrasi akan berkurang maka dengan permainan ini hendaknya siswa sellalu siap konsentrasi agar tidak melakukan kesalahan. (Sumber: Suwardi & Elisa, Eva Imania. 2011. Peemainan (Games) dalam Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Paramita Publishing)


2. Ayo Bermain “Lomba Melipat Kertas Besama Tim”
        Tujuan              : Keakraban, mencairkan suasana, melatih kerjasama
        Waktu              : 10 menit
        Jumlah Peserta     : 6-50 orang
        Setting Ruang       : Kelas

Petunjuk permainan :
  1. Guru menginstruksi kan siswa untuk duduk dengan rapi
  2. Guru membagi tim sesuai dengan tempat duduk siswa
  3. Masing - masing siswa yang duduk paling depan menyiapkan selembar kerta untuk membuat pesawat
  4. Guru menerangkan bahwa masing- masing siswa memiliki sesempatan 1 atau 2 x melipat kerta. sedangkan siswa yang duduknya paling belakang tidak ada patokan berapa x melipat kerta
  5. Kemudian guru memberi aba - aba untuk mulai
  6. Siswa paling depat menelipat kartas pertama, kemudian menyerahkannya ke siswa yang dibelakangnya
  7. siswa yang belakang menerimanya dan melipat kertas tersebut 1 / 2 x lipatan saja kemudian menopernya kepada siswa dibelakangnya. begitu seterusnya sampai siswa yang duduknya paling belakang
  8. Siswa paling belakang bertugas menyelesaikan pembuatan pesawat dari kertas. kemudian menerbangkannya kedepan. sampai diterima oleh siswa yang duduknya paling depan
  9. Kelompok yang selesai diluan dan bisa menerbangkan pesawat sampai bisa di tengkap oleh siswa yang paling depan dia lah pemenangnya.

3. Konsen Trulala

Tujuannya         : Mencairkan suasana, keakraban
Waktu : 15 Menit
Jumlah Peserta :Menyesuaikan
Setting ruangan :Kelas
Petunjuk Permainan:
  1. Semua peserta didik berada di posisi sesuai arahan guru BK
  2. Guru BK menyampaikan aturan permainan
  3. Jika saya menyebut LAUT, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang yang ada di LAUT
  4. Jika saya menyebutkan UDARA, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang yang ada di DARAT.

Setelah dicoba dan bisa menjawab semua sekarang dicoba lagi tapi dengan permainan yang lebih sulit. Adapun aturannya sebagai berikut:
  1. Jika saya menyebutkan LAUT, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang selain yang ada di LAUT
  2. Jika saya menyebutkan UDARA, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang selain yang ada di UDARA
  3. Jika saya menyebutkan DARAT, orang yang saya tunjuk silahkan menjawab dengan menyebutkan salah satu binatang selain yang ada di DARAT
  4. Lakukan beberapa kali dan usahakan semua peserta didik kena tunjuk. Jika ada yang salah dapat diberi sanksi sesuai kesepakatan. Beri feedbeck dengan mengajikan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapat umpan balik mengenai permainan tersebut.


Akhir kata

            Demikianlah 3 contoh ice breaking yang bisa diterapkan dalam bimbingandan konseling pada layanan bimbingan klasikal di kelas.

            Demi bisa memberikan bimbingan klasikal yang efektif dan dapat mencapai tujuan bimbingan klasikal. Guru BK perlu benar-benar memilih ice bereaking yang tepat untuk setiap tema bimbingan klasikal yang akan di berikan bahkan bisa membuat sendiri ice breaking yang cocok dengan kelas yang akan diberi layanan bimbingan klasikal.

            Bagi Bapak Ibu yang punya ice breaking andalannya yang digunakan dalam memberikan bimbingan klasikal di kelas jangan lupa share ice breakingnya di kolom komentar dibawah ya … terimakasi dan tunggu artikel shering konseling berikutnya.

Kamis, 16 September 2021

Kumpulan Contoh Judul PTBK (Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling) Mudah

 



            Penelitian tindakan adalah bentuk investigasi yang dilakukan professional dengan turut serta didalamnya untuk memperbaikai suatu kondisi, dengan bekerjasama menggunakan informasi yang dikumpulkan sebagai bahan untuk refleksi dan melakukan tindakan untuk mencapai perbaikan yang diharapkan.

            Penelitian tindakan bimbingan dan konseling (PTBK) merupakan penelitian yang bersifat reflektif dilakukan pada pelayanan bimbingan dan juga pelayanan konseling yang akan diberikan, agar hasilnya bisa dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan program layanan bimbingan konseling di sekolah dan bisa digunakan untuk pengembangan sekolah dalam merancang model bimbingan yang akan diberikan kepada peserta didik. Jadi PTBK dapat dikatakan upaya untuk mengujicobakan berbagai ide-ide abstarak ke praktik kongkret agar memperoleh dampak nyata dari suatu situasi.1

            Penelitian ini tentu berbeda dengan jenis penelitian lainnya. Salah satu yang membedakannya yaitu judul penelitiannya. Judul pada PTBK merupakan pernyataan yang menunjukkan permasalahan dan tindakan yang akan dilakukan sebagai upaya pemecahan masalah. Judul dirumuskan secara deklaratif, spesifik, singkat, dan jelas yang mencerminkan penelitian tindakan yang akan dilakukan, dan bukan jenis penelitian lainnya.2

            Sebelum membuat PTBK tentu langkah awal yang menjadi pertimbangan adalah pemilihan judul. Pada dasarnya inti dari penetapan judul sebuah PTBK adalah masalah. Masalah apa yang ingin diangkat dengan tindakan tertentu maka peneliti mengidentifikasi masalah-masalah tersebut. Tingkat kesulitan melakukan dan membuat PTBK tergantung jenis judul serta kemampuan dan sumber daya yang dimiliki oleh peneliti. Nah seperti apakah judul PTBK. Berikut ini adalah contoh judul PTBK yang tergolong mudah untuk dikerjakan.

  1. Upaya Meningkatkan Minat Mengikuti Layanan Klasikal dengan Teknik Sosiodrama pada Siswa Kelas VIII  SMP Mardisiswa 2 Semarang Tahun Pelajaran 2020/2021
  2. Upaya Meningkatkan Perilaku Sopan Santun Peserta Didik di Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Sosiodrama pada Peserta didik Kelas VII SMP Babalan Tahun Pelajaran 2020/2021
  3.  Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Dalam Menaati Tata Tertib Melalui Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Teknik Modeling Pada Siswa Kelas VII SMPN 2 Ukui Tahun 2020/2021
  4.  Meningkatkan  Budaya Gotong Royong Siswa di Sekolah Melalui Bimbingan Klasikal dengan Metode Kerja Kelompok Pada Siswa Kelas VII SMP Budi Daya Binjai Tahun 2020/2021
  5. Upaya Mengurangi Perilaku Agresif Verbal Melalui Konseling Kelompok Teknik Kontrak Perilaku pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Pangkalpinang Tahun 2020-2021.
  6. Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Masuk Sekolah Melalui Layanan Konseling Kelompok Teknik Kontrak Perilaku Pada Peserta Didik Kelas VII SMPN 13 Tegal tahun pelajaran 2020/2021
  7. Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa Kelas VIII Melalui Bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok di SMP Negeri 10 Tualang Tahun Ajaran 2020 / 2021
  8.  Upaya Meningkatkan Perilaku Sopan Santun Peserta Didik Kepada Orang Yang Lebih Tua di Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Media Video Karakter Pada Peserta Didik Kelas VII A SMP Budi Daya Binjai Tahun Pelajaran 2020/2021
  9. Upaya Meningkatkan Kemampuan Manajemen Waktu Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok pada Siswa kelas VIII SMP N 5 Tanjung Morawa Satap Tahun Pelajaran 2020/2021.
  10. Upaya Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Mengikuti Layanan Klasikal dengan Model Cooperative Learning Tipe  jigsaw di Kelas VIII SMP Anugrah Tanjungpandan Tahun Pelajaran 2020/2021.
  11. Meningkatkan Kepatuhan Siswa Kelas VII Terhadap Aturan Sekolah Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Tekhnik Diskusi Kelompok di SMPN 2 Pangkalan Kuras Tahun Ajaran 2019/2020
  12.  Meningkatkan Perilaku Disiplin Belajar Yang Rendah Siswa Kelas VIII Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Diskusi SMP Islam Sudirman Tengaran Tahun Ajaran 2020/2021”.
  13. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Layanan Bimbingan Klasikal Teknik Problem Based Learning Pada Siswa Kelas 5-B SDN 050754 Teluk Meku Kec. . Babalan TA 2018/2019
  14. Upaya Menurunkan Perilaku Konsumtif Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Menggunakan Teknik Diskusi Pada Siswa Kelas VIII SMP AL Azhar Syifa Budi Pekanbaru II Tahun Ajaran 2018/2019.
  15.  Meningkatkan Kematangan Karir Peserta Didik Melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Teknik Diskusi Kelompok Kelas XI di SMK Negeri 1 Tanjung Morawa Tahun Ajaran 2019/2020
  16. Upaya Mengurangi Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Think-pair-share (TPS) di Kelas VII SMP N 3 Simpang Rimba Tahun Pelajaran 2020/2021
  17. Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa Kelas VIII Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Modeling SMP Negeri 10 Medan Tahun Pelajaran 2020/2021.
  18. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Modeling Pada Siswa Kelas VIII SMP PGRI 10 Kaliwungu  Tahun 2020-2021
  19. Upaya Peningkatan Keterampilan Interaksi Sosial Siswa Kelas X SMAS RK Deli Murni Sibolangit  Menggunakan Layanan Bimbingan Klasikal Teknik Sosiodrama Pelajaran  2020/2021
  20. Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Dalam Mentaati Tata Tertib Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Menggunakan Teknik Diskusi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Tandun  Tahun Ajaran 2020/2021
  21. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok di Kelas VII A SMPN 31 Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021
  22.  Meningkatkan Hubungan Sosial Siswa Melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Menggunakan Teknik Diskusi Kelompok di Kelas VIII.C SMP Muhammadiyah 1 Tegal Tahun Pelajaran 2020/2021
  23. Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Dalam Mengikuti Bimbingan Klasikal Melalui Pemanfaatan Media Pembelajaran Film di Kelas VII C SMP Islam Bina Insani Susukan tahun pelajaran 2020/2021
            Itulah contoh judul PTBK yang bisa menjadi pedoman dalam membuat judul PTBK dalam mengerjakan PTBK untuk meningkatkan kualitas bimbingan konseling di sekolah dan meningkatkan professional Guru bimbingan konseling / Konselor Sekolah.

    Semoga bermanfaat.. dan tunggu artikel yang berikutnya ya..

 

Daftar Rujukan

  1. Rachman, Ali. 2017. Materi Seminar: Penguatan Penelitian Bimbingan dan Konseling. Berabai.
  2. M. Ramli., Dkk. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Bimbingan Konseling. Jakarta: Dirjen GTK. Kemdikbud

Rabu, 15 September 2021

Pembahasan Soal Pedagogi UP PPG 2021



            Salah satu kunci lulus UP PPG hanya sekali ujian selain aktif belajar mengikuti perkuliahan PPG juga perlu latihan dan membahas soal-soal ujian kompetensi (UP ) PPG. Dengan membahas soal kita dapat memantapkan pengetahuan kita dan berlatih untuk menjawab soal dengan waktu tertentu. Sehingga ketika UP diharapkan kita bisa focus dan tidak gagap dalam menjawab semua soal-soal yang disajikan.

            Untuk hasil yang lebih maksimal. Pemilihan soal-soal yang tepat adalah hal yang penting. Hal tersebut akan mengefektifkan latihan dan belajar kita sehingga hasilnya lebih maksimal. Oleh karena itu soal-soal UP yang di pelajari adalah soal-soal UP yang sesuai dengan kisi-kisi UP PPG resmi dari Kemristekdikti. Selain itu, soal-soal yang ingin dibahas juga bisa diambil dari hasil kompilasi peserta ujian UP PPG yang telah mengikuti ujian pada priode sebelumnya. Bahkan juga bisa diperoleh dari pencarian google, grup media social, buku, dan lain sebagainya.

            Nah untuk yang sedang mencari soal UP PPG kompetensi pedagogi, kali ini saya akan bagikan soal –soal UP bidang kompetensi pedagogi beserta pembahasannya dibawah ini :


SOAL

PEDAGOGIK UMUM


Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Merumuskan indikator kompetensi dan capaian pembelajaran berdasarkan standar

kompetensi lulusan

1. Dengan mencermati standar kompetensi lulusan peserta dapat merumuskan indikator kompetensi

Soal

  1. Pada rancangan pembelajaran terdapat contoh kompetensi dasar yaitu mengidentifikasi jenis, sifat, dan fungsi bahan alam dari tanaman untuk produk karya seni rupa dan kriya, maka rumusan indikator yang bisa dikembangkan guru pada tingkatan kognitif mencipta (C6) yang tepat, adalah….

    1. Mengelompokan bahan alam dari tanaman pandan untuk produk karya seni rupa

    2. Menyebutkan fungsi tanaman pandan untuk produk karya seni rupa

    3. Menjelaskan sifat tanaman pandan untuk produk karya seni rupa

    4. Membedakan sifat tanaman pandan dengan tanaman suji untuk produk karya seni rupa

    5. Membuat produk karya sei rupa dari tanaman pandan

Pembahasan

Untuk menjawab soal tersebut peserta harus memahami tingkatan kognitif dengan

kata kerja operasionalnya contoh; Kata kerja operasional membuattermasuk dalam tingkatan kognitif C6 (Mencipta).

Jawaban: E



Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Merumuskan indikator kompetensi dan capaian pembelajaran berdasarkan standar kompetensi lulusan

2. Berdasarkan rumusan indikator kompetensi peserta dapat merumuskan capaian

pembelajaran (tujuan pembelajaran)

Soal

  1. Pada sebuah rancangan pembelajaran (RPP) tertulis contoh rumusan indikator kompetensi yaitu “menjelaskan kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras”, jika seorang pendidik akan menyusun menjadi tujuan pembelajaran maka rumusan yang tepat adalah….

    1. Setelah melaksanakan proses pembelajaran melalui praktik, siswa dapat menjelaskan kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras berupa komponen input, proses dan output

    2. Setelah melaksanakan proses pembelajaran dan menggali informasi melalui diskusi, siswa dapat menjelaskan kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras secara benar

    3. Siswa dapat menjelaskan kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras berupa komponen input, proses dan output secara benar

    4. Menjelaskan kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras komponen input, proses dan output tanpa melihat catatan

    5. Setelah melaksanakan proses pembelajaran dan menggali informasi melalui diskusi, materi kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras secara benar tanpa melihat catatan.

Pembahasan

Unsur-unsur dalam merumuskan tujuan pembelajaran hendaknya memenuhi kaidah

ABCD yaitu;


Setelah melaksanakan proses pembelajaran dan menggali informasi melalui

C

diskusi, siswa dapat menjelaskan kondisi operasi sistem dan komponen perangkat keras

A B

secara benar

D

Jawaban: B




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Menetapkan materi, proses, sumber, media, penilaian, dan evaluasi pembelajaran

3. Berdasarkan capaian pembelajaran (tujuan pembelajaran) yang telah dirumuskan, peserta dapat

menetapkan materi pembelajaran yang diperlukan

Soal

  1. Pada saat menyusun perencanaan pembelajaran pokok materi tentang Unggas, seorang guru merumuskan tujuan pembelajaran agar siswa dapat mendefinisikan hewan unggas, mengelompokan dan membedakan jenis-jenis unggas. Adapun pilihan strategi pembelajaran untuk menjelaskan materi kepada siswa tersebut yaitu strategi pembelajaran deduktif. Mendasarkan tujuan dan strategi pembelajaran tersebut mencerminkan ragam pengetahuan yang jenisnya….

    1. Fakta

    2. Prosedur

    3. Keterampilan

    4. Konsep

    5. Prinsip

Pembahasan

Berikut merupakan tabel untuk mempermudah dalam menentukan jenis materi

Tujuan  pembelajaran  yang  meminta  siswa  dapat  mendefinisikan  hewan  unggas,

mengelompokan dan membedakan jenis-jenis unggas termasuk jenis materi berupa

konsep

Jawaban: D




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Menetapkan materi, proses, sumber, media, penilaian, dan evaluasi pembelajaran

4. Berdasarkan capaian pembelajaran (tujuan pembelajaran) yang telah dirumuskan dan materi yang ditentukan, peserta dapat

menetapkan proses pembelajaran yang sesuai.

Soal

  1. Perencanaan pembelajaran yang menenkankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan dihubungkan dengan situasi kehidupan sehari-hari sehingga mendorong peserta didik dapat menerapkan dalam kehidupan mereka, pilihan strategi pembelajaran yang tepat yaitu….

    1. Kooperatif

  1. Inkuiri

  2. Problem solving

  3. Discovery

  4. Kontekstual

Pembahasan

Untuk menjawab soal di atas peserta harus memahami model-model pembelajaran dan karateristiknya, seperti;

  • Kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran yang terstruktur secara sistematis di mana siswa-siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dengan anggota antara empat sampai lima orang secara heterogen untuk mencapai tujuan- tujuan bersama

  • Problem solving merupakan kerangka konseptual tentang proses pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah riil dalam kehidupan nyata (otentik), bersifat tidak tentu, terbuka dan mendua untuk merangsang dan menantang siswa berpikir kritis untuk memecahkannya.

  • Inkuiri adalah proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen guna mencari jawaban maupun memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan berpikir kritis dan logis

  • Discovery learning adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk mencari dan menyelidiki suatu permasalahan sehingga siswa dapat menyimpulkan konsep dari pembelajaran yang telah dipelajari

  • Kontektual  (ContextualTeachingandLearning)  adalah  konsep  belajar  yang

mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Jawaban: E




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Menetapkan materi, proses, sumber, media, penilaian, dan evaluasi pembelajaran

5. Berdasarkan capaian pembelajaran (tujuan pembelajaran) yang telah dirumuskan dan materi yang ditentukan, peserta dapat menetapkan sumber

belajar/media pembelajaran yang diperlukan.

Soal

  1. Saat merancang pembelajaran seorang guru ingin menyederhanakan konsep/prinsip

/hukum yang kompleks sehingga dapat memperjelas penyajian pesan secara tertulis, media apa yang paling tepat dipilih oleh guru tersebut....

  1. Bagan

  2. APE (Alat Permaian Edukadif)

  3. Flip Chart

  4. Foto

  5. Gambar

Pembahasan

Untuk menjawab soal ini, peserta harus memahami pengertian, jenis, keunggulan dan kelemahan masing-masing media pembelajaran;

  1. Media foto

Kelebihan

  • Sifatnya konkret, menunjukkan pokok masalah dibanding media verbal.

  • Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.

  • Mengatasi keterbatasan pengamatan

  • Dapat memperjelas suatu masalah

  • Murah harganya dan gampang didapat serta digunakan. Kelemahan:

  • Hanya menekankan persepsi indera mata

  • Gambar /foto yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran

  • Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Syarat pembuatan media foto yang baik:

  • Autentik

  • Sederhana

  • Ukuran relatif (menyesuaikan ruang)

  • Mengandung gerak atau perbuatan

  • Gambar hendaklah bagus dari sudut seni

  1. Sketsa

Sketsa adalah gambar yang sederhana, draft kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Sketsa, selain dapat memeperjelas penyampaian pesan, menghindari verbalisme, menarik perhatian siswa, harganyapun tak perlu dipersoalkan sebab media ini dibuat langsung oleh guru. Sketsa, yang dibuat secara cepat sementara guru menerangkan dapat pula dipakai untuk tujuan tersebut.

  1. Diagram

Sebagai suatu gambar sederhana yang menggunakan garis-garis dan simbol, diagram, atau skema menggambarkan struktur dari obeyeknya secara garis besar, menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau sifat-sifat proses yang terjadi. Ciri-ciri diagram yang perlu diketahui:

  • bersifat simbolis dan abstrak sehingga kadang sulit dimengerti

  • untuk dapat membaca diagram seoarang harus punya latar belakang tentang apa yang didiagramkan

  • walaupun sulit dimengerti, karena sifatnya yang padat, diagram dapat memperjelas arti

Diagram yang baik sebagai media pendidikan:

  • Benar, digambar rapi, diberi titel, label dan penjelasan-penjelasan yang perlu.

  • Cukup besar dan ditempatkan secara strategis

  • Penyusunanya disesuaikan dengan pola membaca yang umum, dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah.

  1. Bagan/chart

Seperti halnya media grafis yang lain, fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide- ide atau konsep yang sulit disampaikan secara tertulis atau secara.

Syarat bagan yang baik, adalah:

  • Dapat dimengerti anak

  • Sederhana dan lugas, tidak rumit dan berbelit-belit

  • Diganti pada waktu-waktu tertentu agar tetap termasa juga tidak kehilangan daya tarik.

Contoh: bagan organisasi, bagan alur siklus air

  1. Grafik

Sebagai suatu media visual, grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik- titik, garis atau gambar. Grafik disusun berdasarkan prinsip-prinsip matematik dan menggunakan data-data komparatif.

Kelebihan grafik sebagai media adalah:

  • Bermanfaat untuk mempelajari dan mengingat data-data kuantitatif dan hubungan-hubungannya.

  • Memungkinkan secara cepat kita mengadakan analisis, interpretasi, dan perbandingan anatara data-data yang disajikan baik dalam hal ukuran, pertumbuhan dan arah.

  • Penyajian data grafik: jelas, cepat, menarik, ringkas, dan logis. Media grafis dikatakan baik, jika memenuhi ketentuan sebagai berikut:

  • Jelas untuk dilihat seluruh kelas

  • Hanya menyajikan satu ide setiap grafik

  • Ada jarak/ruang kosong antara kolom-kolom bagiannya

  • Warna yang digunakan kontras dan harmonis

  • Berjudul dan ringkas

  • Sederhana

  • Mudah dibaca

  • Praktis, mudah diatur

  • Menggambarkan kenyataan/realisme

  • Menarik

  • Jelas dan tak memerlukan informasi tambahan

  • Teliti

  1. APE

Alat permainan edukatif (APE) adalah alat yang digunakan oleh anak untuk bermain sambil belajar artinya alat dan bermain itu sendiri merupakan sarana belajar yang menyenangkan. Anak tidak akan bosan-bosan bermain, di samping itu dengan bermain akan membawa anak kepada pengalaman yang positif dalam segala aspek, seperti aspek pengembangan keimanan dan ketakwaan, daya pikir, daya cipta, kemampuan olah tubuh (jasmani)”.

Jawaban: A




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Menetapkan materi, proses, sumber, media, penilaian, dan evaluasi pembelajaran

6. Berdasarkan capaian pembelajaran (tujuan pembelajaran) dan proses pembelajaran yang telah ditentukan, peserta dapat

menetapkan jenis evaluasi yang tepat

Soal

  1. Seorang guru merancang evaluasi dengan mendasarkan pada indikator dan tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan di RPP. Evaluasi tersebut dimaksudkan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa, maka jenis evalausi yang tepat dipilih oleh guru adalah….

    1. Evaluasi formatif

    2. Evaluasi sumatif

    3. Evaluasi selektif

  1. Evaluasi diagnostik

  2. Evaluasi penempatan

Pembahasan

Jenis evaluasi berdasarkan tujuan

  1. Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan- kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.

  2. Evaluasi selektif adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siswa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.

  3. Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.

  4. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.

  5. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.

Jenis evaluasi berdasarkan sasaran

  1. Evaluasi konteks adalah valuasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan- kebutuhan yang muncul dalam perencanaan.

  2. Evaluasi input adalah evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.

  3. Evaluasi proses adalah evaluasi yang ditujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.

  4. Evaluasi hasil atau produk adalah evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.

  5. Evaluasi outcome atau lulusan adalah evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yaitu evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

Jenis evaluasi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran

  1. Evaluasi program pembelajaran; evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.

  2. Evaluasi proses pembelajaran; evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

  3. Evaluasi hasil pembelajaran; evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.

Jenis evaluasi berdasarkan objek dan subjek evaluasi

Berdasarkan objek:

  1. Evaluasi input adalah evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.

  2. Evaluasi transformasi adalah evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain materi, media, metode dan lain-lain.

  3. Evaluasi output adalah evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

Berdasarkan subjek:

  1. Evaluasi internal adalah evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.

  2. Evaluasi eksternal adalah evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.

Jawaban: B




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai silabus

7. Dengan mencermati silabus, peserta dapat menganalisis keterkaitan antar komponen silabus

Soal

  1. Seorang Guru mencari materi dan media dari internet saat menyusun rencana pembelajaran (RPP), materi dan media tersebut akan disampaikan pada proses pembelajaran dengan maksud agar siswa tidak mengalami kesulitan memahami pelajaran. Langkah apa yang harus dilakukan oleh seorang Guru saat memilih materi pelajaran….

    1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator

    2. Menganalisis potensi peserta didik; relevansi dengan karakteristik daerah; dan struktur keilmuan

    3. Menyesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik

    4. Melihat kebermanfaatan bagi peserta didik; aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran

    5. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan, alat dan sumber bahan, dan alokasi waktu

Pembahasan

Langkah-langkah dalam memilih materi pelajaran

  • Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator

  • Mengidentifikasi jenis-jenis materi pelajaran

  • Memilih materi pembelajaran yang sesuai atau relevan dengan KD dan indicator pencapaian

  • Memilih sumber materi pelajaran Sementara

  • Potensi peserta didik, relevansi dengan karakteristik daerah, dan struktur keilmuan

  • Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik

  • Kebermanfaatan bagi peserta didik, aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran

  • Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan, alat dan sumber bahan, dan alokasi waktu

Bukan termasuk langkah-langkah memilih materi tetapi prinsip dalam memilih materi

Jawaban: A







Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Perencanaan pembelajaran

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai silabus

8. Dengan mencermati silabus yang telah ditentukan, peserta dapat menyusun Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan tepat

Soal

  1. Dengan mencermati silabus, seorang guru akan merancang pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sebagaimana yang tertuang dalam Permendikbud RI No 22 tahun 2016 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mencakup sekurang- kurangnya....

    1. Kompetesi inti, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, materi ajar, model pembelajaran, metode pembelajaran, strategi pembelajaran, dan penilaian hasil belajar

    2. Identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi ajar, model pembelajaran, metode pengajaran, sumber belajar, penilaian hasil belajar, dan bobot penilaian hasil belajar

    3. Standar kompetensi, kompetensi dasar, metode pengajaran, media pembelajaran, sumber belajar, langkah pembelajaran, tes hasil belajar, dan kunci jawaban tes

    4. Identitas mata pelajaran, tujuan pembelajaran, materi ajar, model pembelajaran, media, sumber belajar, langkah pembelajaran, dan penilaian hasil belajar

    5. Identitas sekolah, identitas mata pelajaran, tujuan pembelajaran, materi ajar, media, sumber belajar, langkah pembelajaran, dan penilaian hasil belajar

Pembahasan

Permendikbud No 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah menjelaskan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan satu kali pertemuan atau lebih. Dalam Permendikbud No 22 tahun 2016, secara tegas menjelaskan komponen minimal RPP terdiri atas:

  1. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;

  2. Identitas mata pelajaran atau tema/subtema, mencakup: 1) kelas/semester, 2) materi pokok, dan 3) alokasi waktu ditentukan berdasarkan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar, dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;

  3. Kompetensi Dasar, adalah sejumlah kemampuan minimal yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator pencapaian kompetensi. Kompetensi dasar dalam RPP, merujuk kompetensi dasar yang tercantum dalam silabus;

  4. Indikator pencapaian kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau

diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu.

Indikator pencapaian kompetensi menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi disusun guru dengan merujuk kompetensi dasar. Dengan pertimbangan tertentu, guru dapat menentukan tingkatan indikator lebih tinggi dari kompetensi dasar (kemampuan minimal) yang ditentukan silabus. Pertimbangan tertentu yang dimaksud, antara lain: agar lulusan memiliki nilai kompetitif, atau kelengkapan fasilitas laboratorium lebih baik dari satuan pendidikan sejenis. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan/atau diukur, yang mencakup kompetensi pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor);

  1. Tujuan Pembelajaran dirumuskan lebih spesifik atau detail dengan merujuk indikator pencapaian kompetensi. Jika cakupan dan kedalaman materi pembelajaran sudah tidak dapat dijabarkan lebih detail dan spesifik lagi, maka tujuan pembelajaran disusun sama persis dengan indikator pencapaian kompetensi.

  2. Materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir pokok bahasan/sub pokok bahasan sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. Materi pembelajaran secara lengkap dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik dapat dilampirkan.

  3. Model/Metode pembelajaran, model pembelajaran (lebih luas dari metode, dan mempunyai sintak jelas) digunakan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran dan suasana belajar yang mengaktifkan peserta didik untuk mencapai kompetensi dasar. Penggunaan model pembelajaran hendaknya mempertimbangkan karakteristik peserta didik, dan karakteristik materi pembelajaran. Untuk memperkuat  pendekatan  ilmiah  (scientific),  tematik  terpadu  (tematik  antar matapelajaran), dan tematik (dalam suatu mata  pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (model  pembelajaran                    discovery/inquiry). Untuk mendorong kemampuan berpikir peserta didik abad 21,                     baik secara individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan model pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problembasedlearning).                        Untuk menstimulan kemampuan ketrampilan dan berkarya peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, maka pemilihan  model  pembelajaran berbasis proyek sangat tepat. Tentunya para guru harus memahami berbagai model pembelajaran lain yang dapat mengaktifkan pengalaman belajar peserta didik.

  4. Media Pembelajaran, berupa alat bantu guru untuk menyampaikan materi pembelajaran, agar peserta didik termotivasi, menarik perhatian, dan berminat mengikuti pelajaran. Jenis-jenis media pembelajaran dan karakterisnya, perlu dipahami pada guru, sehingga pemilihan media pembelajaran dapat mengoptimalkan perhatian dan hasil belajar peserta didik.

  5. Sumber belajar, dapat berupa buku cetak, buku elektronik, media yang berfungsi sebagai sumber belajar, peralatan, lingkungan belajar yang relevan;

  6. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran, serangkaian aktivitas pengelolaan pengalaman belajar siswa, melalui tahapan pendahuluan, inti dan penutup. Pada tahapan pendahuluan, guru melakukan kegiatan: 1) memimpin doa dan

mempresensi kehadiran peserta didik, 2) memberikan apersepsi, 3)

menyampaikan tujuan pembelajaran, dan 4) memotivasi peserta didik. Pada tahapan inti, guru mengelola pembelajaran merujuk pada sintak (prosedur) model pembelajaran yang dipilihnya. Tahapan penutup, guru melakukan kegiatan: 1) rangkuman materi pembelajaran, 2) penilaian, dan 3) tindak lanjut pembelajaran berikutnya.

  1. Penilaian, penilaian proses belajar dan hasil belajar dikembangkan oleh guru, dilakukan dengan prosedur:

    1. menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada RPP yang telah disusun;

    2. menyusun kisi-kisi penilaian;

    3. membuat instrumen penilaian serta pedoman penilaian;

    4. melakukan analisis kualitas instrumen penilaian;

    5. melakukan penilaian;

    6. mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian;

    7. melaporkan hasil penilaian; dan

    8. memanfaatkan laporan hasil penilaian.

Jawaban: E





Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Melaksanakan pembelajaran

Melaksanakan pembelajaran dengan mewujudkan suasana dan proses pembelajaran yang sesuai dengan kaidah pedagogik untuk memfasilitasi pengembangan  potensi diri dan karakter siswa

9. Melalui paparan kasus, peserta dapat memberikan pilihan pemecahan masalah pelaksanaan pembelajaran untuk mengembangkan potensi siswa.

Soal

  1. Seorang guru senior mengajar siswanya dengan metode diskusi dan menggunakan media gambar yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Pada awal semester baru 2019 siswa dikelas tersebut diketahui 70% memiliki preferensi belajar kinestetik sehingga mereka tidak fokus saat pembelajaran dan diskusi berlangsung, siswa lebih senang jika mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dari kasus tersebut strategi pembelajaran yang paling tepat dipilih guru….

    1. Kooperatif

    2. Project based learning

    3. Kontekstual

    4. Inqury

    5. Discovery

Pembahasan

Untuk menjawab pertanyaan, anda harus memahami macam-macam strategi pembelajaran;

  • Kooperatif pada intinya adalah suatu strategi pembelajaran yang terstruktur secara sistematis di mana siswa-siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dengan anggota antara empat sampai lima orang secara heterogen untuk mencapai tujuan-tujuan bersama

  • Problem solving merupakan kerangka konseptual tentang proses pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah riil dalam kehidupan nyata (otentik), bersifat

tidak tentu, terbuka dan mendua untuk merangsang dan menantang siswa berpikir kritis untuk memecahkannya.

  • Project based learning atau PjBL merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan penerapan proyek dengan melibatkan siswa menyelidiki masalah dunia nyata

  • Inkuiri adalah proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen guna mencari jawaban maupun memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan berpikir kritis dan logis

  • Discovery learning adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk mencari dan menyelidiki suatu permasalahan sehingga siswa dapat menyimpulkan konsep dari pembelajaran yang telah dipelajari

  • Kontektual kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar

yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari.

Jawaban: B




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Melaksanakan pembelajaran

Melaksanakan pembelajaran dengan mewujudkan suasana dan proses pembelajaran yang sesuai dengan kaidah pedagogik untuk memfasilitasi pengembangan  potensi diri dan karakter siswa

10. Melalui paparan kasus, peserta dapat memberikan pilihan pemecahan masalah pelaksanaan pembelajaran untuk mengembangkan karakter siswa.

Soal

  1. Di sekolah seorang guru menuliskan beberapa aturan seperti dilarang menginjak rumput dan mencoret-coret meja hal ini merupakan pembiasaan kepada peserta didik agar berkembang kecerdasan….

    1. Naturalis

    2. Kinestetis

    3. Visual spasial

    4. Verbal linguistic

    5. Logis matematis

Pembahasan

Pembelajaran logis matematis di sekolah dapat dikembangkan melalui beberapa strategi seperti berikut ini:

  1. Menceritakan masalah yang dihadapi sehari-hari, kemudian dipecahkan dengan bantuan pemikiran matematis dengan mengatur waktu penyelesaian dengan tepat dan efektif.

  2. Merencanakan suatu eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah yang diawali dengan mengungkapkan masalah, membuat hipotesis, melakukan percobaan, menafsirkan data, dan menarik kesimpulan.

  3. Membuat diagram venn untuk mempolakan masalah agar mudah membangun pengertian sehingga mudah dipecahkan.

  1. Membuat analogi untuk menjelaskan sesuatu sehingga mudah dipahami, misalnya menjelaskan tentang peristiwa erosi diwujudkan dengan analogi menumpahkan air pada kepala yang tidak berambut, air akan cepat mengalir ke badan.

  2. Menggunakan ketrampilan berpikir dari tingkat rendah hingga berpikir tingkat tinggi untuk menyelesaikan masalah.

  3. Mengkategorikan fakta–fakta yang dipelajari sesuai sifat dan jenisnya untuk memudahkan mengingat.

  4. Merancang suatu pola atau kode, atau simbol untuk mengetahui obyek yang ingin dipelajari.

Pembelajaran yang dirancang untuk mengaktifkan kecerdasan visual spasial adalah

  1. Visualisasi

Penerapan metode ini dengan menciptakan “layar lebar” di benak siswa, guru dapat membimbing dengan memejamkan mata dan membayangkan apa yang baru saja mereka pelajari dan diminta untuk menceritakan kembali.

  1. Penggunaan warna

Penggunaan warna untuk memberi penekanan pada pola peraturan atau klasifikasi selama proses pembelajaran, misal warna merah pada semua kata–kata penting yang harus dipahami peserta didik. Warna juga sebagai penghilang stress peserta didik ketika menghadapi hal sulit menemukan makna.

  1. Metafora gambar

Metafora gambar adalah pengekspresian gagasan melalui pencitraan visual. Nilai pendidikan metafora ada pembentukan hubungan hal yang sudah diketahui siswa dan yang diajarkan.

  1. Sketsa gagasan

Strategi sketsa gagasan ini meminta peserta didik menggambarkan poin kunci, gagasan utama, tema sentral, atau konsep yang diajarkan, agar cepat dan mudah sketsa tidak harus rapi menyerupai kenyataan.

  1. Simbol grafis

Pembelajaran yang dapat membangkitkan kecerdasan linguistik dalam diri peserta didik dengan strategi berikut;

  1. Bercerita

Peserta didik akan senang menceritakan kisah yang dimiliki kepada temannya sebayanya, sebagian yang lain merasa malu. Mendengarkan cerita melibatkan keterampilan mendengar dan linguistik. Metode bercerita bisa diajarkan kepada peserta didik dengan pendahuluan yang menarik, pemilihan karakter, cerita yang dipilih mengandung imajinasi yang bias dibayangkan oleh pendengar, memakai efek suara, tangan dan gerakan tubuh, suara jelas serta ekspresif, dan kontak mata dengan pendengar.

  1. Diskusi

Diskusi kelas digunakan hampir disetiap mata pelajaran dan semua tingkat. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi agar hasilnya positif dan memuaskan.

  1. Merekam dengan tape recorder

Tape recorder digunakan untuk sebagai pengumpul informasi, wawancara, dan dapat digunakan untuk menyediakan informasi. Peserta didik dapat menggunakan untuk mempersiapkan tulisan, mengolah gagasan, sekaligus membicarakan topic mereka. Peserta didik yang kurang cakap menulis mungkin bisa merekam pemikiran mereka sebagai mode ekspresi alternative. Manfaat lain bias digunakan mengirim

surat lisan kepada peserta didik lain untuk menceritakan pengalaman pribadi mereka, dan memperoleh umpan balik tentang sosialisasi di lingkungan kelas.

  1. Menulis jurnal

Jurnal ini dapat dibuat sangat pribadi dan hanya diceritakan pada guru atau dibacakan secara teratur di depan kelas. Jurnal ini dapat merangkum kecerdasan majemuk dengan menggunakan gambar, sketsa foto, dialog, dan data non verbal. Topic yang ditulis bias bidang umum, spesifik, catatan matematika, gagasan baru, dan mata pelajaran lain

  1. Publikasi

Publikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tulisan peserta didik dapat difotocopi dan disebarkan. Tulisan–tulisan dapat dijilid dalam bentuk buku dan ditempatkan khusus dikelas atau perpustakaan, dan dipublikasikan di web site sekolah. Jika memungkinkan membentuk kelompok khusus kepenulisan utuk diskusi buku dan tulisan peserta didik. Apabila peserta didik tahu bahwa orang lain menggandakan, mendiskusikan, bahkan memperdebatkan tulisan mereka, hal itu memotivasi untuk terus mengembangkan keahliannya.

Pembelajaran dikelas yang dapat mengaktifkan kecerdasan kinestetik adalah;

  1. Respon tubuh

Mintalah peserta didik menanggapi pelajaran menggunakan tubuh sebagai media respon misalnya mengangkat tangan, mengangguk, atau tersenyum jika memahami penjelasan guru.

  1. Teater kelas

Meminta peserta didik memerankan teks, soal, atau materi lain yang harus dipelajari dengan mendramakan isinya.

  1. Konsep kinestetis

Permainan tebak–tebakan yang dilakukan dengan gerakan yang menantang kemampuan peserta didik untuk mengungkapkan pengetahuan dengan cara tidak konvensional.

  1. Hands on thinking

Memberi kesempatan peserta didik untuk memanipulasi obyek atau menciptakan sesuatu dari tangan mereka dengan membuat patung, kolase, atau bentuk kerajinan lain.

  1. Peta tubuh

Tubuh manusia dapat digunakan sebagai alat pedagogis yang berguna, missal jari untuk menghitung, dengan menggunakan gerakan fisik akan menginternalisasikan gagasan.

Pembelajaran di kelas yang mengembangkan kecerdasan naturalis adalah;

  1. Jalan–jalan di alam terbuka

Cara ini untuk menguatkan materi yang akan dipelajari untuk semua mata pelajaran, misalnya untuk melukiskan perjuangan pahlawan, mempelajari pertumbuhan dan cuaca.

  1. Melihat keluar jendela

Untuk mengurangi kebosanan peserta didik di kelas, metode ini dapat dilakukan oleh guru dengan observasi diluar kelas, melakukan pengamatan, dan mencatatat hasilnya.

  1. Ekostudi

Strategi ini mengintegrasikan kepedulian peserta didik pada kelangsungan bumi

untuk semua mata pelajaran, misal; tidak menginjak rumput, tidak membuang sampah sembarangan.

Jawaban: A






Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Menilai dan mengevaluasi pembelajaran

Melaksanakan penilaian otentik- holistik yang mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan;

11. Dengan mencermati RPP dan proses pembelajaran, peserta dapat memberikan pilihan jenis penilaian otentik-holistik terhadap aspek sikap

Soal

  1. Seorang guru ingin mengetahui kemampuan siswa dalam mengatur dan mengelola perbedaan pendapat ketika dilakukan diskusi kelompok. Guru tersebut membuat lembar daftar cek (checklist)dalam bentuk skala yang harus diisikan oleh siswa        untuk menilai teman kelompoknya. Jenis penilaian otentik-holistik yang dapat dipilih oleh guru tersebut yaitu….

    1. Penilaian kinerja

    2. Penilaian proyek

    3. Penilaian portofolio

    4. Pertanyaan terbuka

    5. Penilaian diri

Pembahasan

Penilaian                                                                                              Kinerja Penilaian kinerja sering disebut sebagai penilaian unjuk kerja (performanceassessment).                        Bentuk penilaian ini digunakan untuk mengukur status kemampuan belajar peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pada penilaian kinerja peserta didik diminta untuk mendemonstrasikan tugas belajar tertentu dengan maksud agar peserta didik mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Instrumen yang dapat digunakan untuk merekam hasil belajar pada penilaian kinerja ini antara lain: daftar cek (checklist),catatan anekdot/narasi, skala penilaian (ratingscale).

Penilaian Proyek

Penilaian proyek (projectassessment) adalah bentuk penilaian yang diujudkan dalam                bentuk pemberian tugas kepada peserta didik secara berkelompok. Penilaian ini difokuskan pada penilaian terhadap tugas belajar yang harus diselesaikan oleh peserta didik dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat juga dikatakan sebagai penilaian berbentuk penugasan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik menghasilkan karya tertentu yang dilakukan secara berkelompok. Dengan menggunakan penilaian proyek pendidik dapat memperoleh informasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam hal pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis informasi atau data, sampai dengan pemaknaan atau penyimpulan.

Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan salah satu penilaian otentik yang dikenakan pada sekumpulan karya peserta didik yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu. Karya-karya ini berkaitan dengan mata pelajaran dan disusun secara sistematis dan terogansir. Proses penilaian portofolio dilakukan secara bersama antara antara peserta didik dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan fakta-fakta peserta didik dan proses bagaimana fakta-fakta tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti bahwa peserta didik telah memiliki kompetensi dasar dan indikator hasil belajar sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Untuk melakukan penilaian portofolio secara tepat perlu memperhatikan hal-hal seperti berikut ini, yaitu: kesesuaian, saling percaya antara pendidik dan peserta didik,

kerahasiaan bersama antara pendidik dan peserta didik, kepuasan, milik bersama antara pendidik guru dan peserta didik, penilaian proses dan hasil.

Jurnal

Jurnal belajar merupakan rekaman tertulis tentang apa yang dilakukan peserta didik berkaitan dengan apa-apa yang telah dipelajari. Jurnal belajar ini dapat digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipelajari. Misalnya, perasaan siswa terhadap suatu pelajaran, kesulitan yang dialami, atau keberhasilan di dalam memecahkan masalah atau topik tertentu atau berbagai macam catatan dan komentar yang dibuat siswa.Jurnal merupakan tulisan yang dibuat peserta didik untuk menunjukkan segala sesuatu yang telah dipelajari atau diperoleh dalam proses pembelajaran. Jadi, jurnal dapat juga diartikan sebagai catatan pribadi siswa tentang materi yang disampaikan oleh guru di kelas maupun kondisi proses pembelajaran di kelas.

Penilaian Diri

Penilaian diri (selfassessment)  adalah  suatu  teknik  penilaian di  mana  peserta didik           diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang diperolehnya dalam pelajaran tertentu. Dalam proses penilaian diri, bukan berarti tugas pendidik untuk menilai dilimpahkan kepada peserta didik semata dan terbebas dari kegiatan melakukan penilaian. Dengan penilaian diri, diharapkan dapat melengkapi dan menambah penilaian yang telah dilakukan pendidik.

Untuk melaksanakan penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu memperhatikan hal- hal seperti: menentukan terlebih dahulu kompetensi atau aspek apa yang akan dinilai; langkah berikutnya menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan; merancang format penilaian yang akan digunakan seperti pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala penilaian; peserta didik diminta untuk melakukan penilaian diri; pendidik mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif; dan pendidik menyampaikan umpan balik kepada peserta didik yang didasarkan pada hasil kajian terhadap sampel hasil penilaian yang diambil secara acak.

Penilaian Antarteman

Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peseta didik untuk saling menilai temannya terkait dengan pencapain kompetensi, sikap, dan perilaku keseharian peserta didik. Penilaian ini dapat dilakukan secara berkelompok untuk mendapatkan informasi sekitar kompetensi peserta didik dalam kelompok. Informasi ini dapat dijadikan sebagai bahan menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Pertanyaan Terbuka

Penilaian otentik juga dilakukan dengan cara meminta peserta didik membaca materi pelajaran, kemudian merespon pertanyaan terbuka. Penilaian ini lebih difokuskan terhadap bagaimana peserta didik mengaplikasikan informasi daripada seberapa banyak peserta didik memanggil kembali apa yang telah diajarkan. Pertanyaan terbuka tesebut harus dibatasi supaya jawabannya tidak terlalu luas dan bermakna sesuai dengan tujuannya.

Jawaban: A





Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Menilai dan

mengevaluasi pembelajaran

Melaksanakan penilaian

otentik-holistik yang mencakup ranah sikap,

12. Dengan mencermati RPP dan

proses pembelajaran, peserta dapat memberikan pilihan jenis


pengetahuan, dan keterampilan

penilaian otentik-holistik terhadap aspek pengetahuan

Soal

  1. Jika guru memberikan penugasan kepada siswa yang bertujuan untuk mengukur kemampuan dalam menghasilkan karya tertentu dan dilakukan secara berkelompok. Maka jenis penilaian otentik yang tepat adalah….

    1. Peniaian kinerja

    2. Peniaian portofolio

    3. Penilaian proyek

    4. Penilaian jurnal

    5. Penilaian diri

Pembahasan

Penilaian                                                                                              Kinerja Penilaian kinerja sering disebut sebagai penilaian unjuk kerja (performanceassessment).                        Bentuk penilaian ini digunakan untuk mengukur status kemampuan belajar peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pada penilaian kinerja peserta didik diminta untuk mendemonstrasikan tugas belajar tertentu dengan maksud agar peerta didik mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Instrumen yang dapat digunakan untuk merekam hasil belajar pada penilaian kinerja ini antara lain: daftar cek (checklist),catatan anekdot/narasi, skala penilaian (ratingscale).

Penilaian Proyek

Penilaian proyek (projectassessment) adalah bentuk penilaian yang diwujudkan dalam                bentuk pemberian tugas kepada peserta didik secara berkelompok. Penilaian ini difokuskan pada penilaian terhadap tugas belajar yang harus diselesaikan oleh peserta didik dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat juga dikatakan sebagai penilaian berbentuk penugasan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik menghasilkan karya tertentu yang dilakukan secara berkelompok. Dengan menggunakan penilaian proyek pendidik dapat memperoleh informasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam hal pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis informasi atau data, sampai dengan pemaknaan atau penyimpulan.

Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan salah satu penilaian otentik yang dikenakan pada sekumpulan karya peserta didik yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu. Karya-karya ini berkaitan dengan mata pelajaran dan disusun secara sistematis dan terogansir. Proses penilaian portofolio dilakukan secara bersama antara antara peserta didik dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan fakta-fakta peserta didik dan proses bagaimana fakta-fakta tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti bahwa peserta didik telah memiliki kompetensi dasar dan indikator hasil belajar sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Untuk melakukan penilaian portofolio secara tepat perlu memperhatikan hal-hal seperti berikut ini, yaitu: kesesuaian, saling percaya antara pendidik dan peserta didik, kerahasiaan bersama antara pendidik dan peserta didik, kepuasan, milik bersama antara pendidik guru dan peserta didik, penilaian proses dan hasil.

Jurnal

Jurnal belajar merupakan rekaman tertulis tentang apa yang dilakukan peserta didik berkaitan dengan apa-apa yang telah dipelajari. Jurnal belajar ini dapat digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipelajari. Misalnya, perasaan siswa terhadap suatu pelajaran, kesulitan yang dialami,

atau keberhasilan di dalam memecahkan masalah atau topik tertentu atau berbagai macam catatan dan komentar yang dibuat siswa.Jurnal merupakan tulisan yang dibuat peserta didik untuk menunjukkan segala sesuatu yang telah dipelajari atau diperoleh dalam proses pembelajaran. Jadi, jurnal dapat juga diartikan sebagai catatan pribadi siswa tentang materi yang disampaikan oleh guru di kelas maupun kondisi proses pembelajaran di kelas.

Penilaian Tertulis

Penilaian tertulis mensuplai jawaban isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek dan uraian. Penilaian tertulis yang termasuk dalam model penilaian otentik adalah penilaian yang berbentuk uraian atau esai yang menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi dan sebagainya atas materi yang telah dipelajari. Penilaian ini sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal seperti kesesuaian soal dengan indikator pada kurikulum, konstruksisoal atau pertanyaan harus jelas dan tegas, dan bahasa yang digunakan tidak menimbulkan penafsiran ganda.

Penilaian                                                                                                   Diri Penilaian diri (selfassessment) adalah suatu teknik penilaian dimana peserta didik diminta             untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang diperolehnya dalam pelajaran tertentu. Dalam proses penilaian diri, bukan berarti tugas pendidik untuk menilai dilimpahkan kepada peserta didik semata dan terbebas dari kegiatan melakukan penilaian. Dengan penilaian diri, diharapkan dapat melengkapi dan menambah penilaian yang telah dilakukan pendidik.

Untuk melaksanakan penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu memperhatikan hal- hal seperti: menentukan terlebih dahulu kompetensi atau aspek apa yang akan dinilai; langkah berikutnya menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan; merancang format penilaian yang akan digunakan seperti pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala penilaian; peserta didik diminta untuk melakukan penilaian diri; pendidik mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif; dan pendidik menyampaikan umpan balik kepada peserta didik yang didasarkan pada hasil kajian terhadap sampel hasil

penilaian yang diambil secara acak.

Jawaban: C




Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Menilai dan mengevaluasi pembelajaran

Melaksanakan penilaian otentik-holistik yang mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan

13. Dengan mencermati RPP dan proses pembelajaran, peserta dapat memberikan pilihan jenis penilaian otentik-holistik terhadap aspek keterampilan

Soal

  1. Pada akhir pembelajaran siswa diminta untuk mendemonstrasikan tugas belajar yang diberikan guru dengan tujuan agar siswa tersebut mengaplikasikan kemampuan keterampilan yang dimilikinya dan guru dapat menilai kompetensinya. Instrumen yang dapat dipilih oleh guru untuk merekam hasil belajar yaitu….

    1. Daftar cek (check list)

    2. Benar salah (true false)

  1. Pilihan ganda (multiple choice)

  2. Menjodohkan (matching)

  3. Jawaban bebas (Completion test)

Pembahasan

Penilaian Kinerja

Secara umum tes dapat dipilahkan kedalam bentuk tes penampilan atau unjuk kerja (performancetest), tes lisan, dan tes tulis. Tes penampilan adalah tes dalam bentuk          tindakan atau unjuk kerja untuk mengukur seberapajauh seseorang dapat melakukan sesuatu tugas atau pekerjaan sesuai dengan standar atau kriteria yang ditetapkan. Misalnya tes keterampilan dalam mengoperasikan alat atau peralatan seperti komputer, peralatan produk teknologi, memperagakan gerakan, dan kegiatan belajar lain yang sejenis. Dengan menggunakan tes penampilan atau tes keterampilan maka dapat diketahui secara langsung tingkat atau kualitas keterampilan peserta didik yang sudah dirumuskan dan ditetapkan dalam kompetensi dasar. Di samping itu, tes keterampilan atau tes praktek dapat berfungsi sebagai media belajar untuk mengurangi kejenuhan. Namun demikian, penggunaan tes keterampilan akan menghadapi kendala jika peralatan yang digunakan tidak memadai untuk mendukung pelaksanaan tes itu sendiri. Dilihat dari segi biaya, tes keterampilan relatif mahal manakala dibutuhkan kelengkapan fasilitas tes keterampilan yang lebih kompleks.

Tes lisan (oraltest) yang dilaksanakan secara lisan, soal atau pertanyaan diberikan

secara lisan dan jawaban yang diberikan juga dinyatakan secara lisan.  Tes tulis (written        test) adalah tes yang dilaksanakan secara tertulis, pertanyaan atau soal dinyatakan secara tertulis dan jawaban yang diberikan oleh peserta tes juga dinyatakan secara tertulis. Tes tulis dapat  dikelompokkan menjadi dua yakni tes bentuk uraian (essaytest) dan tes      bentuk obyektif (objectivetest). Tes bentuk uraian adalah tes yang jawabannya tidak     disediakan pada lembar soal, tetapi harus diungkap atau diberikan sendiri oleh  peserta tes. Pengungkapan jawaban oleh peserta tes sangat bervariasi dilihat dari sisi  gaya bahasa dan keluasan lingkup jawaban. Berdasarkan sifat jawaban inilah maka tes bentuk uraian dapat dipilah menjadi uraian bebas dan uraian terbatas. Tes uraian bebas memberi

keleluasaan pada peserta tes untuk mengungkapkan secara panjang lebar jawaban yang diberikan. Tes uraian terbatas membatasi peserta tes dalam menjawab berdasarkan aspek-aspek tertentu dari materi yang diujikan.

Tes bentuk obyektif adalah yang jawabannya disediakan oleh pembuat soal, peserta tes hanya memilih jawaban yang benar dengan cara memberi tanda silang (X), tanda centang (V), atau lingkaran (O). Secara umum tes bentuk obyektif dapat dipilahkan menjadi dua yaitu tes menyajikan (supply test) dan tes pilihan (selection test). Tes bentuk pilihan (selection test) dapat dipilah menjadi benar – salah (true – false), menjodohkan (matching test), pilihan ganda (multiple choice), tes analogi (analogy test), dan tes menyusun kembali (rearrangement test) .

Tes  menyajikan  (supplytest)  adalah  tes  yang  pertanyaan  atau  soalnya  disusun sedemikian rupa dengan maksud agar peserta tes memberikan jawaban cukup dengan satu atau dua kata saja. Tes bentuk pilihan (selectiontest) adalah tes yang formatnya        disusun sedemikian rupa yang mengharuskan peserta tes menjawab dengan cara memilih

alternatif jawaban yang disediakan dengan memberi tanda sesuai petunjuk. Tes bentuk pilihan ini dapat disusun dalam bentuk benar-salah, menjodohkan, dan pilihan ganda. Tes benar-salah  (true-false)  adalah  bentuk  tes  yang  soal  atau  pertanyaannya  berupa pernyataan. Pernyataan tersebut dapat berupa pernyataan yang benar dan pernyataan yang salah. Peserta tes diminta untuk merespons pernyataan tersebut dengan cara

memberi tanda atau memilih huruf B jika pernyataan benar dan memberi tanda atau

memilih S jika pernyataan salah. Tes menjodohkan (matchingtest) adalah format tes           yang disusun dalam dua bagian yaitu bagian pertanyaan atau pernyataan dan bagian jawaban.Tes pilihan ganda adalah bentuk tes yang disusun berupa pertanyaan sebagai

pokok soal (stem) dan alternatif pilihan jawaban. Alternatif pilihan jawaban dapat terdiri

tiga, empat, atau lima. Peserta tes diminta memilih satu jawaban yang benar dari alternatif jawaban yang disediakan dengan cara memberi tanda sesuai dengan petunjuk. Tes pilihan ganda ini dapat dipilah menjadi pilihan ganda, pilihan ganda sebab–akibat, pilihan ganda analisis kasus, pilihan ganda kompleks, dan pilihan ganda membaca diagram/grafik/peta. Tes analogi (analogytest) adalah jenis tes bentuk obyektif yang      disusun sedemikian rupa dimana dalam menjawab pertanyaan atau pernyataan peserta tes diminta memilih bentuk yang sesuai dengan pernyataan sebelumnya. Tes menyusun kembali (rearrangementtest) adalah jenis tes obyektif yang disusun sedemikian rupa             sehingga format pernyataan atau pertanyaan tersusun dalam kalimat yang tidak teratur. Dalam tes jenis ini peserta tes diminta untuk menyusun kembali rangkaian kalimat yang tidak teratur tersebut menjadi urutan pengertian atau proses yang benar.

Penilaian  kinerja   sering   disebut  sebagai  penilaian  unjuk   kerja  (performance           assessment). Bentuk penilaian ini digunakan untuk mengukur status kemampuan belajar         peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pada penilaian kinerja peserta didik

diminta untuk mendemonstrasikan tugas belajar tertentu dengan maksud agar peerta didik mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Instrumen yang dapat digunakan untuk merekam hasil belajar pada penilaian kinerja ini antara lain:

daftar cek (check list), catatan anekdot/narasi, skala penilaian (rating scale).

Jawaban: A






Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Menilai dan mengevaluasi pembelajaran

Menggunakan hasil penilaian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

14. Melalui paparan kasus, peserta dapat menganalisis hasil penilaian pembelajaran

Soal

  1. Sebagian siswa mengalami kesulitan menjawab soal tes pilihan ganda yang disusun oleh guru hal tersebut disebabkan materi dalam soal sebagian belum dipelajari oleh siswa, karena materi tersebut seharusnya diberikan pada pertemuan berikutnya. Hal yang seharusnya dilakukan guru dalam menyusun soal tes pilihan ganda pada aspek materi yaitu….

    1. Soal harus sesuai dengan indikator

    2. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas

    3. Pilihan jawaban harus homogen dan logis

    4. Panjang rumusan pilihan jawaban relatif sama

    5. Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya

Pembahasan

Analisis secara teoritis adalah telaah soal yang difokuskan pada aspek materi, konstruksi, dan bahasa. Penelaahan kualitas soal bentuk obyektif pada aspek materi dimaksudkan untuk mengetahui apakah materi yang diujikan sudah sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang ditetapkan, dan apakah materi soal sudah sesuai dengan tingkat atau jenjang kemampuan berpikir peserta tes, serta apakah kunci jawaban sudah sesuai dengan isi pokok soal. Telaah kualitas soal pada aspek konstruksi dimaksudkan untuk mengetahui teknik penulisan butir-butir soal sudah merujuk pada

kaidah-kaidah penulisan soal yang baik. Pada aspek bahasa, telaah soal dimaksudkan untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan cukup jelas dan mudah dimengerti, tidak menimbulkan multi interpretasi, serta sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa yang berlaku.

Secara teoritis, kualitas soal tes bentuk objektif dapat ditelaah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Butir harus sesuai dengan indicator yang ditetapkan

  • Hanya ada satu jawaban yang benar

  • Pengecoh homogin, dan berfungsi

Kelebihan tes bentuk obyektif

  • Lingkup materi yang diujikan luas sehingga dapat mewakili materi yang sudah diajarkan (representatif)

  • Tingkat validitas isi relatif tinggi

  • Proses koreksi dan penyekoran mudah dan obyektif

  • Tidak memungkinkan peserta tes untuk mengemukakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pertanyaan

  • Informasi hasil tes dapat lebih cepat

  • Tingkat reliabilitas tinggi

  • Memungkinkan penyelenggaraan tes bersama pada wilayah yang luas

Kelemahan tes obyektif

  • Tidak mengembangkan daya nalar peserta tes

  • Peserta tes cenderung menjawab dengan jalan menerka

  • Memungkinkan terjadinya kecurangan, saling menyontek

  • Mengembangkan dan menyusun soal relatif sulit dan waktu lama

  • Membutuhkan waktu untuk membaca soal dan jawabannya sehinnga mengurangi waktu ujian

Salah satu bentuk tes obyektif yaitu tes pilihan ganda. Tes pilihan ganda adalah bentuk tes yang jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan.

Jawaban: A





Kompetensi

Capaian Pembelajaran

Indikator Esensial

Menilai dan mengevaluasi pembelajaran

Menggunakan hasil penilaian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

15. Melalui paparan kasus, peserta dapat menentukan  tindak lanjut hasil penilaian pembelajaran

Soal

  1. Hasil penilaian akhir yang dilakukan oleh guru diketahui beberapa siswa telah memenuhi ketuntasan belajar dan ada juga siswa yang belum memenuhi kreteria ketuntasan belajar. Mendasarkan pada kasus tersebut guru dapat melakukan tindak lanjut hasil penilaian yang dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal. Berikut merupakan pemanfaatan hasil penilaian oleh Guru, kecuali…

    1. Memperbaiki program pembelajaran

    2. Menyelenggarakan program remedial bagi siswa yang hasilnya rendah

    3. Menyelenggarakan program pengayaan bagi siswa yang hasilnya tinggi

    4. Mengadministrasikan hasil penilaian

    5. Menyusun laporan hasil penilaian

Pembahasan

Hasil tes atau hasil penilaian dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan dan perkembangan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan dalam tugas tertentu. Di samping itu hasil penilaian dapat juga memberi gambaran tingkat keberhasilan pendidikan pada satuan pendidikan. Berdasarkan analisis hasil penilaian, dapat ditentukan langkah atau upaya yang harus dilakukan oleh pendidik dan peserta didik dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Oleh sebab itu hasil penilaian yang diperoleh harus diinformasikan langsung kepada peserta didik sehingga dapat dimanfaatkan  untuk  kepentingan  peserta  didik  (assessmentaslearning),  pendidik                        (assessment for learning),  dan  satuan  pendidikan  selama  proses  pembelajaran             berlangsung (melalui Penilaian Harian/pengamatan harian) maupun setelah beberapa kali program pembelajaran (Penilaian Tengah Semester), atau setelah selesai program pembelajaran selama satu semester.

Hasil penilaian berupa informasi tentang peserta didik yang telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM)/ Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) dan peserta didik yang belum mencapai KKM/KBM, perlu ditindaklanjuti dengan program pembelajaran remedial dan pengayaan bagi peserta didik yang telah melampaui KKM/KBM. Penilaian yang dilakukan oleh pendidik juga digunakan untuk mengetahui capaian akhir penguasaan kompetensi peserta didik yang dituangkan dalam rapor.

Hasil penilaian merupakan cerminan prestasi dan tingkah laku peserta didik selama melakukan kegiatan belajar. Dengan melihat hasil akhir beserta keterangan yang ada peserta didik dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga dia dapat memperbaiki sikap dalam pembelajaran selanjutnya. Bagi pendidik, hasil belajar yang dicapai peserta didik merupakan cerminan prestasi dan kondisi yang dapat dicapainya dalam mengimplementasikan program pembelajaran yang sudah dirancang di dalam Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Oleh karena itu, hasil penilaian yang diperoleh peserta didik menjadi bahan untuk memperbaiki program pembelajaran yang disusunnya sekaligus mencari upaya untuk meningkatkan keprofesionalannya.

Selain itu, pendidik bertanggung jawab pula untuk memperbaiki prestasi peserta didik yang belum berhasil melalui program perbaikan/remediasi. Bagi peserta didik yang sudah mencapai batas maksimum, pendidik dapat memberi program pengayaan dengan tujuan mengembangkan prestasinya. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam pemanfaatan hasil penilaian peserta didik adalah untuk menyusun laporan hasil penilaian sebagai fungsí administrasi.

Pada prinsipnya nilai akhir suatu mata pelajaran adalah gabungan dari seluruh pencapaian KD yang ditargetkan. Dengan demikian, pendidik harus membuat tabel spesifikasi yang memuat macam KD dan pencapaian hasil setiap KD, termasuk aspek yang dinilai dalam setiap KD. Pendidik juga harus membuat pembobotan atas dasar hasil yang diperoleh sesuai dengan jenis penilaian yang dilakukan. Perlu diperhatikan bahwa yang lebih penting adalah penilaian harus terbuka dalam arti bahwa peserta didik sejak awal sudah memahami bagaimana pendidik dalam menilai keberhasilan belajarnya.

Jawaban: D





SOAL-SOAL LATIHAN FORMATIF


Ketentuan mengerjakan soal latihan formatif;

  • Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memilih salah satu jawaban yang menurut anda paling benar.

  • Cocokan hasil jawaban anda dengan kunci jawaban

  • Hitunglah jawaban Anda yang benar dengan rumus yang telah disediakan

  • Berilah penilaian atas tingkat pengethuan yang telah anda kuasai


A. Soal-Soal Formatif

  1. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dengan mengintegrasikan teknologi merupakan kompetensi inti pedagogik pada aspek…

    1. Penguasaan terhadap karateristik peserta didik

    2. Penguasaan pada teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran

    3. Pengembangan kurikulum

    4. Penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik

    5. berkomunikasi pada peserta didik

  2. Teori ini memandang belajar sebagai hasil dari pembentukan hubungan antara rangsangan dari luar (stimulus) dan balasan dari siswa (response) yang dapat diamati. Semakin sering hubungan (bond) antara rangsangan dan balasan terjadi, maka akan semakin kuatlah hubungan keduanya (lawofexercise).Teori belajar yang dimaksud          adalah….

    1. Behaviorisme

    2. Kognitif

    3. Humanistik

    4. Sibernetik

    5. Kontruktivisme

  3. Di dalam proses pembelajaran, para siswa dihadapkan dengan situasi di mana ia bebas untuk mengumpulkan data, membuat dugaan (hipotesis), mencoba-coba (trial and error), mencari dan menemukan keteraturan (pola), menggeneralisasi atau menyusun rumus beserta bentuk umum, membuktikan benar tidaknya dugaannya itu. Hal ini merupakan penerapan teori belajar….

    1. Sibernetik

    2. Kognitif

    3. Humannistik

    4. Behaviorisme

    5. Konstruktivisme

  4. Seorang guru yang mengembangkan tujuan pembelajaran untuk menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensinya dimuat dalam....

    1. Silabus

    2. RPP

    3. Silabus dan RPP

    4. SKL

    5. Lembar penilaian



  1. Dalam mempersiapkan pembelajaran seorang guru akan selalu bertemu dengan istilah silabus dan RPP. Silabus dan RPP sama-sama sebagai rencana proses pembelajaran, perbedaannya adalah sebagai berikut...

    1. Silabus berisi kompetensi dasar sedangkan rpp mengarahkan kegiatan belajar untuk mencapai kompetensi dasar

    2. Silabus bersumber dari standar isi dan standar lulusan, sedangkan RPP bersumber dari standar kompetensi lulusan

    3. RPP dibuat oleh setiap guru, sedangkan silabus dibuat oleh tim guru

    4. RPP dan silabus keduanya disusun oleh setiap satan pendidikan.

    5. Dalam silabus dijelaskan metode, media pembelajaran, sumber belajar, langkah- langkah pembelajaran, evaluasi secara rinci

  2. Model pembelajaran yang mempunyai keunggulan antara lain; berpikir dan bertindak kreatif, memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis,  merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat, adalah….

    1. Role Playing

    2. Inquiry

    3. Problem Solving

    4. Picture and Picture

    5. Kontektual

  3. Seorang guru mengajukan pertanyaan kepada siswa dengan tujuan agar siswa tersebut mengingat kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya, hal tersebut termasuk kegiatan...

    1. Memberikan acuan

    2. Melaksanakan tes awal

    3. Memberikan bimbingan

    4. Membuat kaitan

    5. Meningkatkan motivasi

  4. Seorang guru menjumpai kebiasaan belajar yang kurang tepat yang dilakukan oleh salah seorang siswa-nya sehingga kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Langkah awal yang tepat untuk mengatasi kesulitan belajar demikian yaitu....

    1. Tunjukkan akibat atau dampak kebiasaan belajar yang salah terhadap prestasi belajar

    2. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan aspirasinya secara rasional

    3. Ciptakan iklim sosial yang sehat antara guru dengan siswa dan antar siswa didalam kelas

    4. Susun aturan dan batasan-batasan dalam proses pembelajaran

    5. Berikan kesempatan memperoleh pengalaman yang menyenangkan atau memperoleh sukses dalam belajar meskipun prestasinya minimal

  5. Faktor yang penting dipertimbangkan oleh seorang guru dalam melaksanakan diskusi pemecahan masalah pada proses pembelajaran adalah....

    1. Waktu yang tersedia untuk melaksanakan diskusi

    2. Rumusan masalah yang harus didiskusikan

    3. Jumlah peserta didik yang mengikti pembelajaran

    4. Motivasi belajar siswa

    5. Ruang yang tersedia

  6. Seorang guru menjumpai kelas yang motivasi dan prestasi belajar siswanya rendah, hal utama yang menyebabkan motivasi dan prestasi belajar rendahkarena....



  1. Suasana kelas kurang kondusif karena tidak tersedia sarana belajar yang lengkap.

  2. Siswa pasif dalam belajar dan lebih senang bemain.

  3. Siswa tidak mendapat bimbingan belajar dari orang tua.

  4. Pembelajaran kurang menghargai perbedaan individu siswa.

  5. Siswa cenderung lebih suka belajar dalam kelompok

  1. Pada saat mempersiapkan pembelajaran seorang guru dapat menyusun strategi pembelajaran dan menentukan media yang akan digunakan dalam pembelajaran tersebut. Kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang guru terkait dengan keterampilan memilih media pembelajaran adalah…

    1. Guru harus mengetahui latar sosial budaya siswa dan sekolah

    2. Guru mengetahui cara mengevaluasi pembelajarang dengan media

    3. Guru harus memahami karakteristik dari media pembelajaran tersebut.

    4. Guru harus menyesuaikan diri dengan kemampuan sekolah.

    5. Guru menyesuaikan dengan materi pembelajaran.

  2. Seorang guru harus mampu memanfaatkan media pembelajaran dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaraan utuh. Pernyataan berikut yang benar terkait dengan media pembelajaran adalah...

    1. Media pembelajaran yang paling baik adalah media yang berbasis TIK

    2. Sebuah media dapat digunakan untuk semua kegiatan pembelajaran

    3. Semua media pembelajaran sama cara pemanfaatannya

    4. Media dapat digunakan sebagai   pembawa pesan dalam suatu kegiatan pembelajaran

    5. Memilih media tidak perlu banyak pertimbangan agar tidak merepotkan

  3. Setiap materi pembelajaran memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Untuk memudahkan siswa memahami materi yang memiliki tingkat kesukaran tinggi guru sering memanfaatkan media pembelajaran. Misalnya, media gambar atau tayangan video yang berisi sistem peredaran darah. Fungsi media pada pernyataan tersebut adalah….

    1. Menampilkan objek yang terlalu besar

    2. Menampilkan obyek yang sulit diamati

    3. Membuat konkrit konsep yang abstrak

    4. Menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.

    5. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat di dalam lingkungan belajar

  4. Jika guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan  mengintergrasikan  pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya,  dimulai  dengan  memunculkan  pertanyaan  penuntun  (a guiding question)danmembimbing peserta didik berkolaboratif yang mengintegrasikan berbagai          subjek (materi) dalam kurikulum. Pembelajaran yang dilakanakan oleh guru merupakan strategi pembelajaran....

    1. Projek based learning

    2. Kontektual

    3. Discovery Learning

    4. Problem Based Learning

    5. Inquiry learning

  5. Seorang guru melaksanakan pembelajaran yang mengakomodasi semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat. Kegiatan yang dilakukan guru tersebut merupakan implementasi strategi pembelajaran ....



  1. Project based learning

  2. Inquiry learning

  3. Discovery learning

  4. Kooperatif

  5. Problem based learning

  1. Seorang guru mengajak siswa melakukan kunjuangan ke suatu lembaga, namun sesampai dilembaga tersebut belum ada petugas dan nara sumber yang melayani. Untuk mengisi kekosongan waktu guru tersebut memulai pembelajaran dengan memilih menggunakan strategi pembelajaran ekspositori, pertimbangan guru memilih strategi tersebut yaitu....

    1. Waktu belajar cukup banyak

    2. Sumber belajar hanya dimiliki pendidik

    3. Sedikitnya jumlah guru

    4. Ruang kelas yang terbatas

    5. Tidak ada sumber belajar dan media pembelajaran

  2. Berikut ini merupakan langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran project based learning :

  1. Penentuan Pertanyaan Mendasar,

  2. Mendesain Perencanaan Proyek,

  3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule),

  4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project),

  5. Menguji Hasil (Assess the Outcome),

  6. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience).

Urutan yang benar adalah ....

A.  1-2-3-4-5-6

B.  1-2-4-3-5-6

C.  1-3-2-4-5-6

D. 1-3-2-5-6-4

E.  1-2-3-5-4-6

  1. Perhatikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang masih acak berikut ini!

  1. Mengorganisasi siswa dalam belajar

  2. Orientasi siswa pada masalah

  3. Membimbing penyelidikan siswa secara mandiri atau kelompok

  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Jika langkah-langkah tersebut disusun mengikuti urutan model pembelajaran Problem Based Learning, urutan langkah yang tepat adalah ....

A.  1-2-3-4

B.  1-3-2-4

C.  2-3-1-4

D.  3-2-1-4

E.  2-3-1-4

  1. Siswa melakukan kegiatan dengan berpedoman pada langkah-langkah yang telah ditetapkan guru, yaitu mengamati fenomena sosial disekeliling sekolah dan hasil pengamatan ditulis, disusun menjadi laporkan serta didiskusikan bersama guru dan teman sekelas, pilihan strategi yang digunakan….

    1. Discovery

    2. Heuristik



  1. Pemecahan Masalah

  2. Belajar Aktif

  3. Projek Based Learning

  1. Seorang guru ingin membelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif. Maka urutan tahapan yang tepat pada model pembelajaran kooperatif adalah…

    1. Orientasi, bekerja kelompok, kuis, penghargaan kelompok

    2. Kuis, penghargaan kelompok, bekerja kelompok, orientasi

    3. Kuis, bekerja kelompok, orientasi, penghargaan kelompok

    4. Orientasi, penghargaan kelompok, bekerja kelompok, kuis

    5. Orientasi, pengamatan, bekerja kelompok, kuis, penghargaan kelompok

  2. Kriteria keberhasilan belajar siswa ditentukan dengan menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)/ Kreteria Belajar Minimal (KBM). KKM/KBM adalah rata-rata setiap unsur dari kriteria yang ditentukan. Untuk menentukan KKM diperlukan faktor-faktor….

    1. Kompleksitas indikator, daya dukung, dan kemampuan guru

    2. Kemampuan guru, sarana/prasarana, dan intake siswa

    3. Daya dukung, tingkat kesulitan, dan kemampuan guru

    4. Kompleksitas indikator, daya dukung, dan intake siswa

    5. Kemampuan guru, tingkat kesulitan kompetensi dasar, dan intake siswa

  3. Seorang guru harus menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)/ Kreteria Belajar Minimal (KBM). Berikut merupakan fungsi KKM/KBM, kecuali....

    1. Sebagai acuan peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran

    2. Merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran

    3. Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah.

    4. Untuk bahan laporan dan kelengkapan administrasi sekolah

    5. Sebagai kegiatan pengambilan keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif atau kuantitatif.

  4. Pada proses pembelajaran seorang guru ingin melakukan penilaian terhadap prilaku siswa, maka Instrumen yang diguanakan dalam proses pembelajaran tersebut adalah….

    1. Pedoman observasi

    2. Kuesioner

    3. Tes tulis

    4. Pedoman wawancara

    5. Tes hasil belajar

  5. Setiap  kali  diakhir  pembelajaran   seorang   guru   akan   melakukan   proses penilaian. Sebelum guru menyusun soal-soal untuk menilai hasil belajar siswa, manakah yang pertama kali harus dipelajari....

    1. Buku sumber yang digunakan

    2. Kurikulum dan silabus

    3. Karateristik siswa

    4. Indikator pencapaian kompetensi

    5. Kemampuan awal siswa

  6. Upaya merancang pengayaan bagi perserta didik yang mencapai ketuntasan belajar optimal tampak dalam kegiatan guru sebagai berikut….

    1. Memberikan tambahan materi berupa sumber ajar dari pengarang yang berbeda



  1. Memberikan test tambahan dengan tingkat kesukaran lebih tinggi

  2. Memberikan tambahan sumber bacaan yang lebih mendalam dan tingkat variasi yang tinggi berikut instrument testnya yang sesuai

  3. Diberi soal serupak untuk memastikan tingkat keberhasilan belajar

  4. diberikan materi bahan ajar yang lebih tinggi tingkatannya dan mengerjakan soal- soal yang memiliki kesulitan tinggi

  1. Dalam kegiatan penilaian otentik banyak model yang dapat digunakan. Pada suatu penilaian seorang guru meminta siswa untuk mendemonstrasikan tugas belajar tertentu. Bentuk penilaian otentik tersebut merupakan contoh penilaian otentik berbentuk….

    1. Penilaian proyek.

    2. Peniaian kinerja

    3. Peniaian portofolio

    4. Penilaian antar teman

    5. Penilaian diri

  2. Setiap akhir evaluasi dimungkinkan ada siswa yang prestasi belajarnya belum memenuhi ketuntasan, sehingga guru perlu melakukan remedi. Dasar rancangan program remedi bagi siswa yang capaian prestasinya di bawah ketuntasan belajar yaitu….

    1. Proses Pengajaran Remedial Pada Dasarnya Adalah Proses Belajar Mengajar Biasa

    2. Tujuan Pengajaran Remedial Adalah Sama Dengan Test Diagnostik

    3. Sasaran Terpenting Pengajaran Remedial Adalah Peningkatan Kecerdasan Siswa

    4. Strategi Yang Dipilih Hanya Berbentuk Test Ulang

    5. Agar prestasi sekolah menjadi meningkat

  3. Jika seorang guru ingin melakukan kegiatan remedi maka salah satu prinsip yang penting dipahami guru dalam merancang program remedial bagi siswa yaitu tampak dalam kegiatan berikut….

    1. Membuat rancangan pembelajaran khusus untuk siswa peserta remedial

    2. Menggunakan rancangan pembelajaran yang telah dibuat dengan memperhatikan hasil temuan analisis evaluasi belajar siswa

    3. Menurunkan standar ketuntasan belajar

    4. Menggunakan rancangan pembelajaran baru yang berbeda sama sekali dengan rancangan yang ada.

    5. Merancang test ulang saja tanpa ada pengulangan penjelasan materi

  4. Jika seorang guru ingin melakukan penilaian portofolio pada proses pembelajaran, maka Penilaian portofolio dapat dilaksanakan dengan cara….

    1. Memberikan penilaian menyeluruh terhadap tugas-tugas siswa

    2. Mengumpulkan lembaran-lembaran jawaban hasil test harian dan sumatif tiap siswa

    3. Memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah

    4. Mengumpulkan hasil kerja masing-masing siswa yang telah diberikan masukan baik oleh guru dan rekan siswa dalam suatu album sebagai bukti hasil belajar

    5. Mengumpulkan lembaran-lembaran jawaban hasil ulangan tiap siswa untuk melihat kesulitan siswa dalam memahami pokok bahasan tertentu dan kemudian diberikan pengajarandan test remedial

  5. Berdasarkan data hasil evaluasi pembelajaran tentang memahami teks anekdot ternyata hasilnya tidak maksimal. Dari 30 siswa dinyatakan belum tuntas sejumlah 15 sehingga mengikuti program remedial. Sedangkan yang dinyatakan tuntas sejumlah 15 orang mengikuti program pengayaan. Kegiatan pengayaan untuk 15 siswa dapat dilakukan oleh guru dengan cara....

    1. Mengadakan pendalaman materi terkait dengan KD tersebut



  1. Diberikan bahan ajar berupa modul

  2. Digabung dengan siswa yang belum tuntas ikut remedial

  3. Melanjutkan materi pada KD selanjutnya

  4. Memberi tugas mengerjakan lembar kerja siswa




B. Umpan Balik

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat pada bagian akhir pedoman ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi pada buku pedoman ini.

Rumus:

Jumlah jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan = X 100%

n

Keterangan :

n = banyaknya soal


Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90 - 100% = baik sekali

80 - 89% = baik

70 - 79% = cukup

< 70% = kurang

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda mendapatkan penilain baik/sangat baik dan itu menjadi modal awal bagi anda dalam mengikuti UP PPG. Selamat untuk Anda ! Tetapi apabila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi yang ada pada buku pengayaan dan remedi ini terutama bagian yang belum Anda kuasai.



KUNCI JAWABAN SOAL-SOAL LATIHAN


No

Jawaban

No

Jawaban

1

B

16

B

2

A

17

A

3

E

18

C

4

B

19

A

5

A

20

A

6

C

21

D

7

D

22

E

8

E

23

A

9

B

24

D

10

D

25

E

11

C

26

B

12

D

27

C

13

C

28

D

14

A

29

D

15

E

30

A


Soal Ulangan Harian PJOK Kelas 9 Semester 1 Permainan bola besar, Permainan Bola Kecil, dan Atletik

  ULANGAN HARIAN KELAS 9 PJOK SEMESTER 1 Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d yang merupakan jawaban paling benar untuk s...