Sabtu, 11 September 2021

Konseling Kelompok Untuk Menangani Kecemasan Konseli




            Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program bimbingan konseling. Layanan ini memfasilitasi untuk memperoleh bantuan pribadi secara langsung untuk mengatasi masalah yang timbul pada peserta didik (konseli). Ada dua jenis konseling dalam bimbingan konseling yaitu konseling individual dan konseling kelompok. Keduanya merupakan cara yang hanya bisa dilakukan oleh Guru bimbingan konseling (Konselor) untuk memberian bantuan terhadap peserta didik (konseli) yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan bantuan.

            Salah satu masalah yang bisa dibantu dalam konseling adalah kecemasan. Rasa, gelisah, khawatir atau takut yang mendalam saat akan menghadapi, sedang menghadapi, atau baru mengalami suatu peristiwa yang berat atau juga perasaan yang muncul ketika akan melaksanakan suatu kegiatan yang dirasa cukup berat namun harus harus dikerjakan. Seperti takut bicara didepan umum, menghadapi ujian yang berat dan lain sebagainya merupakan bagian dari kecemasan. Dari masalah yang muncul inilah tugas Guru BK untuk memberikan bantuan normal dan pelayanan konseling yang tepat agar kecemasan peserta didik (konseli) dapat berkurang.

            Adapun pelayanan konseling yang bisa diberikan yaitu guru bimbingan konseling (konselor) bisa memberikan konseling traumatis. Konseling traumatis merupakan layanan bimbingan dan konseling yang membantu konseli yang mengalami masalah kecemasan akibat suatu peristiwa yang baru saja dialaminya seperti baru saja mengalami pelecehan seksual, baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti, baru saja mengalami kecelakaan, kekerasan dari orang lain, ancaman, ataupun baru saja melewati sebuah bencana atau kejadian buruk lainnya.

        Semua orang tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Suatu hal atau peristiwa bisa kapan saja terjadi termasuk juga masalah kecemasan peserta didik. Apabila kecemasan ini dibiarkan berlarut tentu akan berdampak tidak baik bagi seseorang dan bila itu terjadi pada peserta didik tentu akan mengganggu belajarnya. Terutama bila kecemasan itu sudah menjadi berlebihan. Untuk itulah disinilah peran bimbingan konseling dan kesiapan Guru BK untuk mencegah agar kecemasan tersebut tidak meningkan dan bahkan dapat meredakan kecemasan yang dialamai konseli dengan melalui kegiatan konseling. Oleh karena itu di perlukan pendekatan khusus yang sesuai dengan karakteristik masalah peserta didik sehingga layanan bimbangan konseling yang diberikan dapat mangatasi masalah peserta didik.

        Didalam konseling terdapat beberapa pendekatan atau teknik yang bisa diterapkan pada setiap masalah yang ditangani peserta didik (konseli). Tentunya Guru BK sebelum melakukan konseling juga harus tau karakteristik konseli dan karakteristik masalah yang dihadapi konseli. Pada masalah kecemasan terhadap peristiwa berat yang baru saja di alami peserta didik, Guru BK bisa menggunakan konseling traumatis dengan teknik konseling desentisisasi sistematis dan relaksasi.

A. Apa itu desentisisasi sistematis ? ..

         Desentisisasi sistimatis yaitu suatu bentuk pengkondisian klasik (classical conditioning) dimana situasi-situasi yang membangkitkan kecemasan dipasangkan dengan respon-respon penghambat untuk menghilangkan respon emosional yang tidak diinginkan terhadap jenis stimulus tertentu. Jika suatu respon rileks dipasangkan dengan suatu stimulus yang membangkitkan kecemasan, maka akan berkembang suatu pertalian baru antara keduanya sehingga stimulus yang membangkitkan kecemasan tersebut pada akhirnya tidak lagi menyebabkan kecemasan. (Wolpe:1996).

        Teknik desentisisasi sistematis ini dikembangkan untuk menghilangkan respon emosional yang tidak diinginkan terhadap jenis stimulus tertentu dimana situasi-situasi yang membangkitkan emosi yang tidak diinginkan dipasangkan dengan respon yang menghambat (Bruno, 1980). Misalnya, jika stimulus yang membangkitkan kecemasan dipasangkan dengan respon rileks maka akan berkembang suatu pertalian baru antara keduanya sehingga stimulus yang membangkitkan kecemasan tersebut pada akhirnya tidak lagi menyebabkan kecemasan.

        Desensitisasi sistematis merupakan salah satu teknik konseling behavioral yang cocok digunakan untuk menangani kecemasan atau ketegangan yang dialami konseli. Adapun tahap-tahap Desensitisasi Sistematis (Gerald Corey) yaitu :

  1. Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan
  2. Menyusun tingkat kecemasan
  3. Membuat daftar situasi yang memunculkan/meningkatkan taraf kecemasan mulai dari yang paling buruk sampai ke yang paling rendah.
  4. Melatih relaksasi yaitu dengan berlatih pengenduran otot dan bagian tubuh dengan titik berat wajah, tangan, kepala, leher, pundak, punggung, perut, dada, dan anggota badan bagian bawah. 
  5. Pelaksanaan desensitisasi sistematis konseli dengan santai dan mata tertutup.
  6. Meminta konseli membayangkan dirinya berada pada satu situasi yang netral, menyenangkan, santai, nyaman, tenang. Saat konseli santai diminta membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan pada tingkat paling rendah dalam situasi yang diceritakan konselor.
  7. Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas dan hentikan.
  8. Kemudian dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, diminta membayangkan lagi pada situasi dengan kecemasan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
  9. Terapi selesai apabila konseli mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan mencemaskan.
        Sedangkan prosedur dalam pelaksanaan teknik desensitisasi sistemanis versi Cormier dan Cormier: 1985 yaitu :

  1. Rasional perlakuan; berisi penjelasan tentang maksud dan gambaran ringkas tentang prosedur yang akan dilaksanakan.
  2. Identifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan; Situasi-situasi yang menimbulkan emosi harus dibatasi secara jelas untuk setiap konseli (wawancara asesmen, pantauan diri konseli, angket laporan diri).
  3. Konstruksi hirarkhi; suatu daftar situasi stimulus yang direspon konseli dengan sejumlah kecemasan atau beberapa respon emosional lain secara bertingkat (Wolpe, 1983).
  4. Rasional perlakuan; berisi penjelasan tentang maksud dan gambaran ringkas tentang prosedur yang akan dilaksanakan.
  5. Identifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan; Situasi-situasi yang menimbulkan emosi harus dibatasi secara jelas untuk setiap konseli (wawancara asesmen, pantauan diri konseli, angket laporan diri).
  6. Konstruksi hirarkhi; suatu daftar situasi stimulus yang direspon konseli dengan sejumlah kecemasan atau beberapa respon emosional lain secara bertingkat (Wolpe, 1983).


B. Apa itu relaksasi ? ..


        Oke, di dalam tubuh manusia terdapat 620 otot skeletal. Otot-otot skeletal tersusun dari ikatan serabut paralel, dan masing-masing serabut terbuat dari sejumlah slim filament yang dapat mengkerut dan memanjang (melebar). Ketegangan otot dapat dikurangi dengan latihan relaksasi. Relaksasi dapat digunakan sebagai ketrampilan coping. Adapun kegunaan relaksasi yaitu:
  1. Membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena adanya stres.
  2. Mengobati masalah-masalah yang berhubungan dengan stres seperti hipertensi, sakit kepala, insom
  3. Mengurangi kecemasan.
  4. Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress,
  5. Meningkatkan penampilan kerja, sosial, dan ketrampilan fisik
  6. Meningkatkan hubungan interpersonal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Soal Ulangan Harian PJOK Kelas 9 Semester 1 Permainan bola besar, Permainan Bola Kecil, dan Atletik

  ULANGAN HARIAN KELAS 9 PJOK SEMESTER 1 Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d yang merupakan jawaban paling benar untuk s...