Sabtu, 11 September 2021

Perbedaan HOTS Dan LOTS



        Akhir-akhir ini di dunia pendidikan dan seleksi masuk perguruan tinggi maupun seleksi masuk kerja tertentu sudah menerapkan higher order thinking skills atau HOTS dalam pelaksanaannya.

        Di dunia pendidikan proses pembelajaran, bimbingan perlu menerapkan metode-metode yang bisa mendidik peserta didik untuk mampu berfikir tingkat tinggi atau HOTS.

        Sedangkan pada seleksi masuk perguruan tinggi dan seleksi masuk kerja seperti seleksi CPNS misalnya, sudah menerapkan soal-soal yang bertipe HOTS untuk mencari orang-orang yang unggul. Tidak hanya memerlukan daya ingat yang bagus, untuk mencari jawaban yang benar pada soal HOTS juga memerlukan nalar yang bagus hingga kemampuan analisis yang tinggi.

        Kebalikan dari HOTS adalah LOTS yang merupakan kependekan dari Lower Order Thinking Skills. LOTS adalah kemampuan berfikir tingkat rendah yang merupakan kemampuan yang hanya sebatas mengatahui dan mengingat sesuatu konsep dasar saja. Sedangkan HOTS merupakan kemampuan berfikir evaluatif, kritis, kreatif, serta dapat pengambilan keputusan yang tepat dan dapat pemecahan masalah secara baik dan benar.


    Nah berikut ini rincian ringkasan perbedaan tingkatan proses berfikir LOTS dan HOTS.


PROSES KOGNITIF

DEFENISI

C6

 

H

O

T

S

Mengkreasi

Menempatkan unsur-unsur secara bersama-sama untuk membentuk keseluruhan secara koheren atau fungsional; menyusun kembali unsur-unsur ke dalam pola atau struktur baru

C5

Menilai / Mengevaluasi

Membuat pertimbangan berdasarkan pertimbangan atau standar

C4

Menganalisis

Memecah materi ke dalam bagian-bagiannya dan menentukan bagaimana bagian-bagian itu terhubung antar bagian dan ke struktur atau tujuan keseluruhan

C3

 

L

O

T

S

Menerapkan / mengaplikasikan

Melakukan atau menggunakan prosedur di dalam situasi yang tidak biasa

C2

Memahami

Membangun arti dari proses pembelajaran, termasuk komunikasi lisan, tertulis, dan gambar

C1

Mengingat

Mengambil pengetahuan yang relevan dari ingatan




        Pada dasarnya untuk mencapai HOTS, seseorang perlu untuk menguasai LOTS (Low Order Thinking Skills). Karena LOTS dan HOTS merupakan tahap proses kemampuan berfikir. Untuk bisa mencapai keterampilan berfikir HOTS seseorang perlu terlebih dahulu sudah menguasai LOTS yaitu kemampuan mengingat sesuatu, kemudian memahami sesuatu, dan kemudian mengaplikasikan sesuatu hal yang telah diingat kemudian dipahami.

        Nah setelah seseorang mampu untuk mengingat sesuatu, kemudian memahami sesuatu yang diingat tersebut, hingga kemudian mengaplikasikan sesuatu hal yang telah diingat dan dipahaminya. Pada tahap kemampuan berfikir selanjutnya disebut HOTS yaitu kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, hingga mengkreasi. Pada tahap ini seseorang menggunakan kemampuan berfikir pada tingkat rendah LOTS untuk bisa berfikir pada tahap selanjutnya yaitu HOTS. Jadi setelah seseorang mampu mengingat, memahami, dan mengaplikasikan maka seseorang menggunakan semua kemampuan tersebut untuk menganalisis sesuatu, kemudian mengevaluasi sesuatu untuk mengambil suatu putusan, dan hingga mampu untuk mengkreasi.

Konseling Kelompok Untuk Menangani Kecemasan Konseli




            Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program bimbingan konseling. Layanan ini memfasilitasi untuk memperoleh bantuan pribadi secara langsung untuk mengatasi masalah yang timbul pada peserta didik (konseli). Ada dua jenis konseling dalam bimbingan konseling yaitu konseling individual dan konseling kelompok. Keduanya merupakan cara yang hanya bisa dilakukan oleh Guru bimbingan konseling (Konselor) untuk memberian bantuan terhadap peserta didik (konseli) yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan bantuan.

            Salah satu masalah yang bisa dibantu dalam konseling adalah kecemasan. Rasa, gelisah, khawatir atau takut yang mendalam saat akan menghadapi, sedang menghadapi, atau baru mengalami suatu peristiwa yang berat atau juga perasaan yang muncul ketika akan melaksanakan suatu kegiatan yang dirasa cukup berat namun harus harus dikerjakan. Seperti takut bicara didepan umum, menghadapi ujian yang berat dan lain sebagainya merupakan bagian dari kecemasan. Dari masalah yang muncul inilah tugas Guru BK untuk memberikan bantuan normal dan pelayanan konseling yang tepat agar kecemasan peserta didik (konseli) dapat berkurang.

            Adapun pelayanan konseling yang bisa diberikan yaitu guru bimbingan konseling (konselor) bisa memberikan konseling traumatis. Konseling traumatis merupakan layanan bimbingan dan konseling yang membantu konseli yang mengalami masalah kecemasan akibat suatu peristiwa yang baru saja dialaminya seperti baru saja mengalami pelecehan seksual, baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti, baru saja mengalami kecelakaan, kekerasan dari orang lain, ancaman, ataupun baru saja melewati sebuah bencana atau kejadian buruk lainnya.

        Semua orang tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Suatu hal atau peristiwa bisa kapan saja terjadi termasuk juga masalah kecemasan peserta didik. Apabila kecemasan ini dibiarkan berlarut tentu akan berdampak tidak baik bagi seseorang dan bila itu terjadi pada peserta didik tentu akan mengganggu belajarnya. Terutama bila kecemasan itu sudah menjadi berlebihan. Untuk itulah disinilah peran bimbingan konseling dan kesiapan Guru BK untuk mencegah agar kecemasan tersebut tidak meningkan dan bahkan dapat meredakan kecemasan yang dialamai konseli dengan melalui kegiatan konseling. Oleh karena itu di perlukan pendekatan khusus yang sesuai dengan karakteristik masalah peserta didik sehingga layanan bimbangan konseling yang diberikan dapat mangatasi masalah peserta didik.

        Didalam konseling terdapat beberapa pendekatan atau teknik yang bisa diterapkan pada setiap masalah yang ditangani peserta didik (konseli). Tentunya Guru BK sebelum melakukan konseling juga harus tau karakteristik konseli dan karakteristik masalah yang dihadapi konseli. Pada masalah kecemasan terhadap peristiwa berat yang baru saja di alami peserta didik, Guru BK bisa menggunakan konseling traumatis dengan teknik konseling desentisisasi sistematis dan relaksasi.

A. Apa itu desentisisasi sistematis ? ..

         Desentisisasi sistimatis yaitu suatu bentuk pengkondisian klasik (classical conditioning) dimana situasi-situasi yang membangkitkan kecemasan dipasangkan dengan respon-respon penghambat untuk menghilangkan respon emosional yang tidak diinginkan terhadap jenis stimulus tertentu. Jika suatu respon rileks dipasangkan dengan suatu stimulus yang membangkitkan kecemasan, maka akan berkembang suatu pertalian baru antara keduanya sehingga stimulus yang membangkitkan kecemasan tersebut pada akhirnya tidak lagi menyebabkan kecemasan. (Wolpe:1996).

        Teknik desentisisasi sistematis ini dikembangkan untuk menghilangkan respon emosional yang tidak diinginkan terhadap jenis stimulus tertentu dimana situasi-situasi yang membangkitkan emosi yang tidak diinginkan dipasangkan dengan respon yang menghambat (Bruno, 1980). Misalnya, jika stimulus yang membangkitkan kecemasan dipasangkan dengan respon rileks maka akan berkembang suatu pertalian baru antara keduanya sehingga stimulus yang membangkitkan kecemasan tersebut pada akhirnya tidak lagi menyebabkan kecemasan.

        Desensitisasi sistematis merupakan salah satu teknik konseling behavioral yang cocok digunakan untuk menangani kecemasan atau ketegangan yang dialami konseli. Adapun tahap-tahap Desensitisasi Sistematis (Gerald Corey) yaitu :

  1. Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan
  2. Menyusun tingkat kecemasan
  3. Membuat daftar situasi yang memunculkan/meningkatkan taraf kecemasan mulai dari yang paling buruk sampai ke yang paling rendah.
  4. Melatih relaksasi yaitu dengan berlatih pengenduran otot dan bagian tubuh dengan titik berat wajah, tangan, kepala, leher, pundak, punggung, perut, dada, dan anggota badan bagian bawah. 
  5. Pelaksanaan desensitisasi sistematis konseli dengan santai dan mata tertutup.
  6. Meminta konseli membayangkan dirinya berada pada satu situasi yang netral, menyenangkan, santai, nyaman, tenang. Saat konseli santai diminta membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan pada tingkat paling rendah dalam situasi yang diceritakan konselor.
  7. Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas dan hentikan.
  8. Kemudian dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, diminta membayangkan lagi pada situasi dengan kecemasan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
  9. Terapi selesai apabila konseli mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan mencemaskan.
        Sedangkan prosedur dalam pelaksanaan teknik desensitisasi sistemanis versi Cormier dan Cormier: 1985 yaitu :

  1. Rasional perlakuan; berisi penjelasan tentang maksud dan gambaran ringkas tentang prosedur yang akan dilaksanakan.
  2. Identifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan; Situasi-situasi yang menimbulkan emosi harus dibatasi secara jelas untuk setiap konseli (wawancara asesmen, pantauan diri konseli, angket laporan diri).
  3. Konstruksi hirarkhi; suatu daftar situasi stimulus yang direspon konseli dengan sejumlah kecemasan atau beberapa respon emosional lain secara bertingkat (Wolpe, 1983).
  4. Rasional perlakuan; berisi penjelasan tentang maksud dan gambaran ringkas tentang prosedur yang akan dilaksanakan.
  5. Identifikasi situasi yang menimbulkan kecemasan; Situasi-situasi yang menimbulkan emosi harus dibatasi secara jelas untuk setiap konseli (wawancara asesmen, pantauan diri konseli, angket laporan diri).
  6. Konstruksi hirarkhi; suatu daftar situasi stimulus yang direspon konseli dengan sejumlah kecemasan atau beberapa respon emosional lain secara bertingkat (Wolpe, 1983).


B. Apa itu relaksasi ? ..


        Oke, di dalam tubuh manusia terdapat 620 otot skeletal. Otot-otot skeletal tersusun dari ikatan serabut paralel, dan masing-masing serabut terbuat dari sejumlah slim filament yang dapat mengkerut dan memanjang (melebar). Ketegangan otot dapat dikurangi dengan latihan relaksasi. Relaksasi dapat digunakan sebagai ketrampilan coping. Adapun kegunaan relaksasi yaitu:
  1. Membuat individu lebih mampu menghindari reaksi yang berlebihan karena adanya stres.
  2. Mengobati masalah-masalah yang berhubungan dengan stres seperti hipertensi, sakit kepala, insom
  3. Mengurangi kecemasan.
  4. Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress,
  5. Meningkatkan penampilan kerja, sosial, dan ketrampilan fisik
  6. Meningkatkan hubungan interpersonal

Kamis, 15 Januari 2015

Daftar Susunan Proposal Penelitian dan Skripsi Metode Penelitian kualitatif

 

          

            Siapa bilang di semester akhir kuliah bisa santai ?. Seperti yang kita pahami bahwa untuk menjadi seorang sarjana, kita harus malaksanakan suatu penelitian terkait dengan program studi yang kita ambil. Namun sebelum menjalani penelitian, Kita perlu untuk menyusun proposal skripsi yang menjelaskan maksud, tujuan, serta penjelasan dan rencana awal sebelum kita melakukan penelitian untuk menyusun sebuah sekripsi.

            Untuk menyusun sebuah proposal penelitian dan skripsi, kita perlu memahami cara dan aturan didalam penyusunannya. Apalagi metode penelitian ada beberapa jenisnya dan setiap metode penelitian yang ingin kita pakai cara menyusunannya berbeda – beda. Oleh karena itu kita perlu tau bagaimana cara dan aturan dalam penyusunannya. Hal itu sangat penting apalagi jika mendapatkan dosen pembimbing yang cukup sulit. Tentu kita gak mau terlalu lama bimbingan proposal skripsi kan ?

            Kali ini saya akan bagikan struktur susunan proposal skripsi dan struktur skripsi dengan metode penelitian kualitatif.

        Secara umum penelitian kualitatif adalah sebuah metode yang mengedepankan pada aspek pemahaman lebih mendetail terhadap suatu masalah. Penelitian ini merupakan suatu penelitian riset yang sifatnya deskripsi, cenderung bersifat analisis dan lebih menampakkan proses maknanya.

Berikut ini susunan struktur susunan proposal skripsi dan skripsi metode penelitian kualitatif :

A. STRUKTUK PROPOSAL SKRIPSI DENGAN METODE PENELITIAN KUALITATIF

JUDUL PENELITIAN / SAMPUL

LEMBARAN PERSETUJUAN PROPOSAL

DAFTAR ISI      

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Identifikasi Masalah

C. Rumusan Masalah

D. Tujuan Penelitian

F. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Landasan Teoritis

B. Kerangka Konseptual

C. Penelitian Yang Relevan ( Jika Ada ) 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

B. Tempat Dan Waktu Penelitian

C. Subjek Dan Objek Penelitian

D. Langkah – Langkah Penelitian

1. Informasi dan menentukan situasi penelitian

2. Teknik pengumpulan data

3. Teknik analisis data

4. Keabsahan data

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN – LAMPIRAN

( Melampirkan Alat Pengumpulan data yang diguanakan / Instrumen Penelitian )


B. STRUKTUK SKRIPSI DENGAN METODE PENELITIAN KUALITATIF

            Skripsi merupakan tambahan proposal skripsi, hasil penelelitian, hingga kesimpulan dengan susunan dalam bentuk bab, dengan sistematika penulisan dimulai dari bab 1, bab 2, bab 3, bab 4 hingga daftar pustaka. Adapun struktur susunan skripsi metode penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :

JUDUL PENELITIAN / SAMPUL

LEMBARAN PERSETUJUAN PROPOSAL

LEMBARAN PERSETUJUAN SKRIPSI

SURAT PENGESAHAN MEMPERTAHANKAN SKRIPSI

ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DARTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Identifikasi Masalah

C. Rumusan Masalah

D. Tujuan Penelitian

F. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Landasan Teoritis

B. Kerangka Konseptual

C. Penelitian Yang Relevan ( Jika Ada ) 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

B. Tempat Dan Waktu Penelitian

C. Subjek Dan Objek Penelitian

D. Langkah – Langkah Penelitian

1. Informasi dan menentukan situasi penelitian

2. Teknik pengumpulan data

3. Teknik analisis data

4. Keabsahan data

 

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Temuan Umum

1. Letak Geografis Sekolah

2. Sejarah Perkembangan Sekolah

3. Profil Sekolah

a. Identifikasi sekolah

b. Visi, misi, dan tujuan sekolah

4. Struktur Organisasi

5. Kondisi Umum Tentang Peserta didik

6. Kondisi Umum Tentang Guru dan Karyawan sekolah

7. Keadaan Sarana dan Prasarana Sekolah

B. Temuan Khusus

(Mencakup Semua Point – Point Yang ada di “RUMUSAN MASALAH”)

C. Pembahasan Hasil Penelitian

( Membahas Hasil Penelitian dengan menggunakan pandangan orisinalnya dalam sudut pandang kajian teoritis dan kajian empirik yang terdahulu ) 

BAB V KESIMULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN – LAMPIRAN


            Itulah kerangka susuran proposal dan skripsi penelitian kualitatif. Kamu bisa menerapkannya atau menjadikannya sebagai sumber refrensi untuk membantu penyusunan proposal dan skripsi penelitian kualitatif kamu. 

Tulis pendapat di kolom komentar, ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya…

Soal Ulangan Harian PJOK Kelas 9 Semester 1 Permainan bola besar, Permainan Bola Kecil, dan Atletik

  ULANGAN HARIAN KELAS 9 PJOK SEMESTER 1 Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d yang merupakan jawaban paling benar untuk s...